Purbasangka

Bambang Setiono

Universitas Sampoerna

Kemarin, 12 April 2019,  koran South China Morning Post menurunkan berita opini dengan judul yang di landasi prejudice atau purbasangka kepada kelompok Islam di Indonesia. Judul beritanya “Indonesian Election: in Prabowo Versus Widodo, It’s Islamic Statehood Versus Tolerance” atau Pemilu Indonesia: Prabowo Versus Widodo, Sebuah Negara Islam Versus Negara Toleran.

Purbasangka terhadap Islam tentunya di lakukan oleh kelompok yang tidak menyenangi Islam mewarnai kehidupan sebuah negara atau bangsa seperti yang sering di lakukan oleh kelompok non-muslim, komunis, orang kulit putih, dan kapitalis.  Kelompok-kelompok ini belum tentu memiliki ideologi yang sama tetapi mereka bersatu untuk menentang kelompok Islam. Kelompok penentang Islam ini menganggap kelompok mereka lebih toleran dan menghargai HAM daripada kelompok Islam khususnya Islam yang melaksanakan ajaran agamanya secara sungguh-sungguh. Mereka menganggap kelompok Islam seperti ini adalah kelompok koservatif, intoleran dan radikal yang bertujuan membangun khilafah atau negara Islam.

Prejudice ini tidak akan pernah bisa di hilangkan karena inilah dinamika politik dan sosial dari kelompok masyarakat yang terjadi sejak perumusan dan pembentukan negara dan bangsa Indonesia.  Kelompok Islam, nasionalis, dan komunis bersaing memperebutkan kekuasaan dan pengaruh dalam kehidupan berbangsa dan bernegara yang akhirnya melahirkan ideologi Pancasila sebagai kompromi dari tiga kekuatan sosial dan politik yang ada di Indonesia.  Prejudice semakin terpelihara dengan kekuatan media yang di miliki oleh kelompok kapitalis. Melalui pemberitaan yang pada intinya berperilaku intoleran, media menyuarakan pemberitaan bahwa kelompok Islam adalah kelompok yang intoleran seperti yang dilakukan oleh South China Morning Post.

Apakah kelompok Islam Indonesia intoleran? Masyarakat Islam Indonesia tidak pernah membedakan hak laki-laki dan perempuan walaupun meyakini adanya peran yang berbeda di antara keduanya untuk membangun masyarakat.  Indonesia pernah memiliki presiden perempuan dan banyak pimpinan daerah yang dijabat oleh perempuan.  Bahkan sudah banyak pemimpin non-muslim yang terpilih di Indonesia.

Bandingkan dengan Amerika Serikat yang mayoritas masyarakatnya kristen (71%) yang sampai saat ini belum bisa melahirkan presiden perempuan.  Amerika Serikat juga belum pernah melahirkan pemimpin daerah beragama Islam walaupun agama Islam di banyak negara bagian disana adalah agama terbesar kedua di negara bagian tersebut. Kesempatan seorang Muslim mencalonkan diri menjadi Presiden Amerika Serikat hampir tidak ada.  Sebaliknya, peluang non-muslim untuk mengajukan diri sebagai calon Presiden Indonesia sangatlah besar karena mereka memiliki dana dan jaringan partai politik yang dapat mendukungnya.

Apakah masyarakat kelompok Islam pendukung calon Presiden Prabowo adalah kelompok intoleran?  Indikasinya tidak ada. Sebagaimana berkali-kali dinyatakan oleh Prabowo maupun para habib, kyai, dan ulama yang mendukung pasangan 02, seluruh kelompok Islam yang mendukung Prabowo menginginkan dilaksanakannya Pancasila dan UUD 1945 sebagaimana di di amanatkan oleh para pendiri bangsa. Mereka tidak ingin membangun negara Islam.  Setiap usulan membentuk negara Islam pasti akan melemahkan persatuan yang saat ini terwujud dalam kelompok ini.  Jika Prabowo memenangkan pemilu ini, negara Islam tidak akan terbentuk. Akan tetapi, pelaksanaan demokrasi akan lebih bernafaskan nilai-nilai Islam yang rahmatan lil alamin.

Apakah nantinya kelompok Islam di Indonesia akan membentuk negara Islam jika Prabowo memenangkan pemilu 2019? Sepanjang masyarakat Islam mau memperjuangkan nilai-nilai Islam yang rahmatan lil alamin, tidak akan ada peluang bagi kelompok Islam radikal untuk memenangkan hati rakyat Indonesia untuk memimpin di negara ini.  Pancasila adalah wujud pelaksanaan nilai-nilai Islam yang rahmatan lil alamin. Hanya jika, sebagian besar umat Islam lupa atau mengabaikan nilai-nilai Islam dalam kehidupan politik dan ekonomi bahkan ikut melakukan korupsi, keinginan untuk membangun negara Islam akan terus berkobar.

Mari kita mendukung mayoritas umat Islam di negara ini bersatu untuk melaksanakan nilai-nilai Islam yang rahmatan lil alamin dalam kegiatan politik dan ekonomi. Mari kita lawan purbasangka kepada Islam dengan bersatu melaksankan demokrasi berdasarkan nilai-nilai universal Islam yang menjunjung keadilan dan perlindungan kepada yang lemah dan minoritas.  Umat Islam adalah mayoritas di Indonesia (87%) dan sudah seharusnya niai-nilai dari kelompok ini lebih dapat mempengaruhi kehidupan berbangsa dan bernegara. Jika kondisi sebaliknya yang terjadi, kelompok minoritas telah melakukan tindakan intoleransi dan tirani kepada kelompok mayoritas.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *