Nilai Pemberitaan

Bambang Setiono (Dosen Akuntansi Universitas Sampoerna)

Menarik menganalis nilai-nilai moral yang dibawa oleh para penulis berita profesional khususnya koran , majalah dan televisi. Walaupun mereka mengaku tidak berpihak dan profesional sesuai dengan kode etik jurnalistik, mereka adalah manusia biasa, seperti saya dan kita yang juga memiliki nilai-nilai moral pada saat kita menulis atau mengutarakan pendapat kita.  Saya ingin mengambil contoh tulisan saudari Karina M. Tehusijarana di Jakarta Post, 2 Desember 2018 berjudul “Anti-Ahok protesters, opposition camp mark 212 rally anniversary” yang bisa di terjemahkan “Para Pemrotes Anti Ahok, Kubu Oposisi Melaksanakan Ulang Tahun Pawai 212”.

Nila moral yang dimiliki oleh Karina adalah nilai-nilai yang diskriminatif terhadap orang-orang yang datang ke acara Reuni 212 pada tanggal 2 Desember itu. DIa menganggap mereka yang hadir di Monas pada hari itu adalah kelompok tukang protes dan oposisi pemerintah.  Padahal didalam acara tersebut banyak sekali anak-anak, ibu-ibu, dan bapak-bapak yang tidak memprotes apa-apa kepada kelompok yang  mendukung pemerintah. Mereka juga tidak anti Ahok. Kenapa harus anti Ahok? Selama Ahok berbuat kebaikan saya rasa semua orang (termasuk Muslin) akan mendukungnya (yang beragama Kristen).  Kalau masalahnya memilih peminpin, bukankah hal itu adalah hak masing-masing warga. Di alam demokrasi, siapapun tidak bisa memaksa seseorang untuk memilih pemimpin.  Seorang yang taat beragama, apapun agamanya, tentunya akan condong memilih pemimpin yang seiman.  Ini berlaku universal di seluruh dunia.  Karina mungkin harus belajar dari kasus pemilihan presiden Amerika Serikat Barrack Obama yang dicurigai sebagai Muslim.

Karina memilih kata-kata  ribuan orang untuk menunjukan besarnya kegiatan Reuni 212. Apa maksudnya?  Apakah Karina menyamakan Reun 212  kemarin ini sama dengan menonton pertandingan sepakbola di Lapangan Lebak Bulus?  Kegiatan Reuni 212 kemarin di hadiri oleh jutaan orang yang membuat separuh Jakarta lumpuh.  Pertandingan sepak bola di Gelora Bung Karno yang lebih besar saja tidak sampai membuah Jakarta lumpuh.

Karina memilih hanya memberitakan  pesan pemimpin Front Pembela Islam, Habib Rizieq Shihab, yang meminta umat Islam untuk tidak memilih pemimpin dari  parta yang mendukung penoda agama.  Tidak ada yang istimewa dari pesan ini.  Semua pemimpin agama juga akan melakukan hal yang sama.  Tetapi karena Karina memfokuskan tulisannya hanya kepada pesan ini, padalah Habib Rizieq juga memberikan pesan-pesan moral yang lain, pilihan Karina ini menjadi pertanyaan. Apa maksudnya?  Habib Rizieq juga berpesan kepada semua peserta dan semua penduduk Indonesia, untuk tidak berbuat bohong. Tidak melakukan kebohongan dalam kehidupan sehari-harinya. Apalagi melakukan kebohongan dalam melaksanakan tanggung jawabnya sebagai pejabat pemerintah termasuk sebagai jurnalis atau wartawan. Menurut saya, jurnalis yang berbohong sama dampaknya dengan pejabat yang korupsi.  Mengapa, Karina tidak memilih pesan penting ini untuk di bahas?  Apakah Karina ingin memframe Habib Rizieq sebagai seorang tokoh yang gila kekuasaan dan tukang protes yang tidak ada dasarnya?

Tentu saja hanya Karina yang bisa menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut. Akan tetapi, menurut saya Karina sudah menggunakan nilai moral yang tidak toleran atau diskriminatif kepada anak-anak, ibu-ibu, dan bapak-bapak yang hadir di acara Reuni 212.  Mereka datang bukan untuk memprotes pemerintah dan anti Ahok. Mereka hadir untuk bersilaturahmi dan menyebutkan kalimat Tauhid. Laa ilaaha illallah Muhammad Rasulullah.  Kenapa mereka mau datang dari luar kota dengan biaya sendiri untuk melakukan kegiatan ini di Monas?  Mereka ingin menyayangi Allah dan Rasul-Nya. Mereka ingin menunjukan kasih sayang itu secara berjamaah kepada Nya sesuai dengan perintahNya. Mereka berharap pertolonganNya dalam menjalankan hidup ini sebagai bekal di akhirat nanti.  Mereka berharap juga disayang oleh Allah dan Rasul-Nya. Saya berkeyakinan, dengan izin Allah swt, saudara dan saudari saya yang kemarin belum terbuka hatinya untuk bersama-sama menyayangi Allah dan Rasul-Nya, tahun depan akan hadir di Monas. Jumlah yang akan hadir akan semakin banyak dari tahun ini, siapapun kelompok yang mengendalikan pemerintah.   

Menurut saya, Karina tidak profesional dalam melakukan tugas jurnalistiknya.  Demikian pula dengan Jakarta Post yang mengizinkan tulisannya di muat  sebagaimana dapat di lihat pada link di bawah ini. Sebaiknya Jakarta Post dan jurnalisnya melakukan investigasi mendalam tentang perjuangan Habib Rizieq untuk membuat Islam menjadi agama yang memberikan cahaya di Republik yang kita cintai bersama ini.  Dengan satu syarat, JANGAN BERBOHONG. Beritakan semua apa adanya, hal-hal yang baik dan hal-hal yang kurang baik harus diberikan kepada khalayak umum atau dalam istilah jurnalistiknya, memberitakan berita secara profesional.

http://www.thejakartapost.com/news/2018/12/02/anti-ahok-protesters-opposition-camp-mark-212-rally-anniversary.html

 

 

 

 

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *