Inti Akuntabilitas

Accountability and Islam – Mervyn K Lewis, Professor of Banking and Finance, School of Commerce, Division of Business,  University of South Australia 

Salah satu tujuan utama dari sistem akuntansi adalah untuk membantu tercapainya akuntabilitas. Mereka yang diberikan tanggung jawab mengelola sumber daya ekonomi harus memberikan pertanggung jawaban (stewardship) dengan memberikan  laporan atau “Account”, terlepas dari apakah transaksi dan sumber daya yang dimaksud terkait dengan sebuah entitas pemerintah atau swasta. Fungsi stewardship  adalah fitur yang biasa ada pada aktivitas organisasi manusia sejak masa lalu  (Brown, 1905; Brown, 1962; Stone, 1969). Pada awalnya ditetapkan pada tingkat pemilik properti individu, saat ini akuntabilitas digambarkan dalam akuntansi pada tingkat manajemen (publik atau tertutup) untuk membantu dalam alokasi sumber daya secara efisien dengan memberikan informasi, baik untuk pemantauan kinerja ex-post (setelah kejadian) atau untuk pengambilan keputusan ex-ante (sebelum kejadian) oleh mereka yang bertanggung jawab untuk membuat keputusan investasi (Whittington, 1992).

Akan tetapi, akuntabilitas juga memiliki maksud dan tujuan ekonomi dan sosial yang lebih luas sebagaimana juga diatur dalam Islam dimana masalah ekonomi, politik, agama dan sosial – khususnya akuntansi – berada dibawah yurisdiksi hukum ilahi Islam, yaitu shari’a. Arti harfiah dari kata Arab shari’a adalah cara untuk sumber kehidupan dan dalam pengertian teknis, sekarang digunakan untuk merujuk kepada sistem hukum agar sesuai dengan perilaku yang diminta oleh Kitab Suci Al Qur’an dan hadits (tradisi otentik). Calder (2002:1981) mendefinisikan hukum Islam sebagai “disiplin hermenetika” yang mengeksplorasi dan menafsirkan “Wahyu” melalui tradisi.  Kita Suci Al-Qur’an (wahyu) dan sunnah (contoh Nabi seperti yang tercatat dalam Hadis atau tradisi), mendefinisikan dengan jelas apa yang benar, “fair”, dan adil, apa preferensi dan prioritas masyarakat, apa peran dan tanggung jawab perusahaan, dan juga dalam beberapa aspek mengeja secara khusus standar akuntansi untuk praktek akuntansi.

Di dalam Kitab Suci Al-Qur’an, sebagai contoh, kata hisab  diulang lebih dari delapan kali di dalam ayat-ayat yang berbeda (Askary dan Clarke, 1997). Hisab atau ‘account’ adalah akar dari akuntansi, dan referensi dalam Kitab Suci Al-Qur’an adalah untuk menyampaikan ‘account” dalam arti generik, berkaitan dengan kewajiban seseorang untuk menyampaikan ‘account’ kepada Allah SWT pada semua hal yang berkaitan dengan usaha manusia dimana setiap Muslim ‘bertanggung jawab’ (accountable). Semua sumber daya diberikan kepada individu manusia berdasarkan kepercayaan. Individu adalah “trustee” untuk apa yang telah diberikan oleh Allah SWT dalam bentuk barang, properti dan ‘intangible aset’. Sejauh mana individu harus menggunakan apa yang dipercayakan kepada mereka ditentukan dalam shari’a, dan keberhasilan individu di akhirat tergantung pada kinerja mereka di dunia ini. Dalam pengertian ini, setiap Muslim memiliki ‘account’ dengan Allah, yang ‘mencatat’ semua perbuatan baik dan semua perbuatan buruk, “account” yang akan terus berfungsi sampai datangnya kematian kepada individu yang akan diperlihatkan oleh Allah SWT pada hari pengadilan (S4:62).  Hal ini menambah dimensi ekstra dalam menilai sesuatu dan perbuatan dibandingkan dengan apa sudah ada didalam laporan keuangan konvensional.

Dengan demikian dasar kesamaan antara hisab dalam Islam dan ‘akuntansi’ terletak kepada tanggung jawab kepada setiap Muslim untuk melaksanakan tugas-tugas seperti yang dijelaskan dalam Kitab Suci Al- Qur’an. Demikian pula, dalam sebuah perusahaan, baik manajemen dan penyedia modal bertanggung jawab atas tindakan mereka di dalam maupun di luar perusahaan mereka. Akuntabilitas dalam konteks ini berarti akuntabilitas kepada masyarakat (umat) atau masyarakat luas. Muslim tidak bisa, dengan itikad baik, memisahkan perilaku mereka ke dalam dimensi agama dan sekuler, dan tindakan mereka selalu terikat dengan shari’a. Hukum Islam dengan demikian menjadi satu dengan tugas dan praktek-praktek seperti sembahyang, berdoa, sopan santun dan moral, transaksi perdagangan  dan praktek bisnis.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *