Membenahi Perguruan Tinggi

Asep Saefuddin
Rektor Universitas Al Azhar/Guru Besar Statistika FMIPA IPB

Pendidikan Tinggi (PT) banyak dikaitkan dengan kemajuan ekonomi negara. Apalagi saat ini dimana ekonomi berbasis inovasi, riset, dan aplikasi ilmu pengetahuan telah membuktikan banyak negara semakin maju dan kuat secara ekonomi. Semakin jelas bahwa peran PT menjadi sangat sentral. Selain itu, jati diri sebuah negara terangkat melalui kekuatan PT.

Negara Indonesia mempunyai persoalan pendidikan tinggi yang relatif kompleks. Secara kuantitas, jumlah PT di Indonesia sangat banyak, bahkan melebihi jumlah PT di Tiongkok. Akan tetapi juga aneh, selain masalah mutu, juga sebarannya tidak merata, dan masih ada program studi yang masih diperlukan. Program studi kedokteran/kesehatan masih kurang dari jumlah minimum. Begitu juga program-program yang berkaitan dengan STEM (science, technology, engineering, mathematics). Belum lagi, persoalan diskonektifitas lulusan dan kebutuhan tenaga kerja. Artinya, pendidikan tinggi kita mengalami paradox, yakni banyak tapi kurang.

Kaitannya dengan kegiatan riset di PT, juga ada persoalan dengan kualitas riset, laporan, jurnal, apalagi aplikasinya. Dana riset yang telah digelontorkan pemerintah seolah habis begitu saja tanpa terlihat dampaknya. Produktifitas paper berbasis riset PT kita masih jauh di bawah Singapura, Malaysia, dan Thailand.

Pemerintahan Kabinet Kerja mengadopsi model pemerintahan dekade 60 awal, yakni dengan membentuk Kementeriaan Ristek dan Dikti. Salah satu tujuan dari kementerian ini adalah percepatan penerapan hasil-hasil riset di dunia industri. Istilah yang dipergunakan adalah hilirisasi riset.

Dengan banyaknya persoalan di dunia pendidikan tinggi, percepatan aplikasi riset untuk kepentingan industri dan usaha tidak sesuai dengan yang diharapkan. Salah satu indikatornya adalah Global Competitiveness kita masih jauh di bawah Singapur, Malaysia, dan Thailand. Persoalan ini memang tidak bisa dilepaskan dari lingkungan bisnis, perbankan dan pemerintahan kita yang terkendala regulasi dan birokrasi. Tetapi harus diakui secara internal kemenristekdikti dan perguruan tinggi di Indonesia yang secara umum belum beranjak dari pola lama.

Tulisan ini dibuat sebagai pemikiran solusi persoalan pendidikan tinggi Indonesia. Hal ini mencakup internal PT dan pembangunan nasional secara makro.

Continue reading “Membenahi Perguruan Tinggi”

Mencetak Pengusaha Kelas Dunia: Belajar dari Li Shufu Membuat Volvo Bangkit dari Mati Suri

                                                        “Who knows how many roads are in front of you?” (Li Shufu, Geely Owner)

 

Bambang Setiono

Fakultas Bisnis-Universitas Sampoerna

 

Perkawinan ada yang berhasil dan ada yang gagal, dan untuk perkawinan atau merger di industri mobil biasanya sering mengalami kegagalan.  Contoh saja, merger antara Ford dan Volvo,  Daimler dan Chrysler, General Motors dan Saab, serta Ford dan Jaguar. Semua perkawinan ini berakhir menyedihkan. Cerita perkawinan yang menarik muncul dari perkawinan yang tak terbayangkan oleh siapapun dari sebuah perusahaan pembuat mobil kelas bawah di China, ketika Geely membeli Volvo dari Ford pada tahun 2010.

Pemilik Geely,  Li Shufu membelli Volvo dari Ford dengan harga obral sebssar $1.8 miliar (seperempat dari harga beli Volvo yang di bayar oleh Ford ) dalam bentuk kas dan hutang.  Pada saat membeli Volvo, Geely adalah mobil dengan kualitas no.36 di China dengan pendapatan seperenam dari pendapatan Volvo. Sementara Volvo pada saat itu sedang mati suri karena Ford tengah mengalami kesulitan keuangan.

Bagaimana seorang Li Shufu mampu membeli Volvo yang jauh lebih besar dan lebih berkualitas dari dirinya?  Bagaimana Li Shufu merubah Volvo yang hampir mati menjadi  perusahaan yang mencatatkan prestasi luar biasa pada tahun 2017 dengan penjualan 571.577  mobil, keuntungan operasional  $1.76 miliar dan penjualan  $26.3 miliar?  Volvo saat ini di perkirakan bernilai  $30 miliar (Mei 2018) dan akan segera melakukan go public.

Mari kita belajar dari kesuksesan Li Shufu.
Continue reading “Mencetak Pengusaha Kelas Dunia: Belajar dari Li Shufu Membuat Volvo Bangkit dari Mati Suri”

Menolak Terorisme

Sebagian kecil orang percaya bahwa membunuh orang yang berbeda adalah cara paling manjur untuk masuk Surga.  Sebagian lagi merasa sistem Pancasila bukanlah sistem yang tepat untuk Indonesia dan ingin menggantinya secara diam-diam dan pelan-pelan sambil membangun kekuatan .

Kedua kelompok saudara ini cepat atau lambat akan bentrok dengan kita yang percaya bahwa Pancasila adalah sistem sebagaimana yang di ajarkan di dalam semua kitab suci.  Pancasila mengajarkan semua perintah Tuhan Yang Maha Esa.

Yang salah adalah pemimpin yang munafik.  Menyatakan Pancasila tetapi melakukan korupsi, diskriminatif,  tidak fair,  penuh konflik kepentingan, dan sebagainya tindakan yang tidak beretika (baca tidak Pancasila) .

Kalau ingin merubah Indonesia menjadi lebih baik, jadilah pemimpin etik di tempat anda bekerja dan di partai politik yang anda dukung. Memang tidak mudah,  tetapi itulah jalan menuju Surga sebagaimana di ajarkan oleh semua kitab suci. Lihatlah bagaimana perjuangan para Nabi dan Rasul Allah SWT.  Tidak ada yang mudah.

Mari kita membantu himbauan pemerintah agar para dosen tidak menjadi anggota kelompok organisasi yang ingin merubah Pancasila.

Saya ALFED saya Pancasila..

https://regional.kompas.com/read/2017/07/22/16505881/menristekdikti-beri-pilihan-kepada-dosen-dan-pegawai-ptn-anggota-hti

 

Cara Bank di Spanyol Menghadapi Disrupsi Fintech

Bank Santander, salah sstu bank besar di Eropa membuat beberapa anak usaha untuk menghadapi perkembangan Fintech seperti Monzo dan Tandem.  Mereka membuat openbank dan bank yang khusus melayani UKM.

Memperhatikan dan meneliti perkembangan bank di Indonesia menghadapi Fintech tentunya sangat menarik.

Simak berita lengkapnya di bawah ini:

https://www.telegraph.co.uk/business/2018/05/12/santander-ke launch-stand-alone-uk-digital-bank/

Tidak ada perusahaan Indonesia yang memiliki budaya etika kerja kelas dunia

Sambil menunggu antrian yang cukup panjang,  saya mencari peringkat perusahaan dengan etika kerja terbaik di Indonesia. Sayangnya, saya selalu mendapatkan berita dari media di Indonesia yang menyebutkan terpilihnya perusahaan etika kelas dunia.  Tidak ada berita tentang pemberian penghargaan etika kerja perusahaan di Indonesia.

Apa boleh buat,  saya jadi mencari data perusahaan kelas dunia yang memiliki budaya etika kerja atau organisasi yang baik.

Saya harus kecewa lagi,  ternyata tidak ada perusahaan Indonesia yang mendaptkan penghargaan dari lembaga Ethisphere yang sejak tahun 2007 telah memberikan penghargaan etika kepada organisasi bisnis dan non-profit di dunia.

Perusahaan dari Asia yang mendapatkan penghargaan adalah Singapore Airlines dan Tata Industries.  Ada satu perusahaan Taiwan yang kurang terkenal di Indonesia,  Sinyi Reality yang masuk daftar.  Sementara organisasi non-profit yang saya tahu beroperasi di Indonesia adalah The Nature Conservancy sebuah LSM bidang lingkungan hidup.

Kekecewaan saya semakin bertambah karena tidak ada satupun Kantor Akuntan Big 4 yang masuk kedalam daftar ini.  Sebagai seorang akuntan tentunya saya berharap Kantor Akuntan memiliki budaya etika kerja yang tinggi.  Saya juga baru tahu bahwa Nokia ternyata memiliki etika organisasi yang lebih baik dari Apple dan Samsung, dua perusahaan yang banyak mempengaruhi cara kita bekerja sekarang ini.

Saya tertarik dengan manajemen etika dari perusahaan-perusahaan yang beretika ini, khususnya bagaimana mereka bisa tetap menjaga etika kerja mereka pada saat beroperasi di negara yang tinggi tingkat korupsinya dan budaya etika organisasinya bukan menjadi bagian utama kebijakan tata kelola perusahaan di negara tersebut.

Inilah daftar organisasi dengan budaya etika organisasi kelas dunia.  Harusnya menyenagkan bekerja atau bekerjasama dengan organisasi-organisasi ini.

http://www.worldsmostethicalcompanies.com/honorees/

 

Kesiapan Perguruan Tinggi Memasuki Era Industri 4.0

Sambil makan soto mie Bogor dan Es Campur Medan, saya membaca paper menarik dari Apitep Saekow and Dolly Samson (2011) yang mengutarakan hasil penelitian mereka tentang kesiapan perguruan tinggi di Thailand mengadopsi e-learning sebagai sistem pendidikan di perguruan tinggi.  Paper ini menarik untuk kita pahami karena pendidikan di era industri 4.0 akan berbasis e-learnings.

Saekow dan Samson (2011) menggunakan sebuah alat ukur yang memiliki instrumen mengukur leadership perguruan tinggi atau mereka menyebutnya bisnis,  kesiapan teknologi,  keuangan,  infrastruktur dan SDM perguruan tinggi.

Dengan alat ukur itu dan membandingkannya dengan perguruan tinggi di Amerika Serikat,  mereka menemukan pergurian tinggi di Thailand belum siap dengan e-learnings. Mereka menemukan leadership perguruan tinggi lemah karena tidak memberikan contoh dan terlibat dalam proses elearning.  SDM dosen belum aktif dan lebih menggunakan pendekatan top-down pedagogy dalam mengembangkan elearning, teknologi yang masih rendah dan juga materi pembelajaran yang kurang memadai  khususnya tentang budaya Thailand.

Mungkin kondisi elearning di Thailand sudah lebih baik saat ini karena penelitian Saekow dan Samson dilakukan 7 tahun yang lalu. Tetapi saya kurang tertarik mencari tahu jawabannya.  Yang lebih penting menurut saya adalah mengetahui kesiapan perguruan tinggi Indonesia dengan elearning. Apakah kondisi kita saat ini sama dengan kondisi Thailand 7 tahun yamg lalu?  Apakah ada teman-teman yang sudah menelitinya?

Tanpa terasa Soto Mie dan Es Campur sudah pindah ke perut saya. Go-car juga sudah menunggu saya balik ke kampus.

Untuk yang ingin membaca lengkap hasil penelitian Saekow dan Samson silahkan unduh di bawah ya.  Sampai jumpa di cerita yang lainnya.

https://scholar.google.co.id/scholar?q=E-learning+Readiness+of+Thailand%E2%80%99s+Universities&hl=en&as_sdt=0&as_vis=1&oi=scholart&sa=X&ved=0ahUKEwj7ss2h3-jaAhUJULwKHVlsCOcQgQMIFTAA#d=gs_qabs&p=&u=%23p%3Dco1q6iWTsrYJ

 

 

AI Membantu Mengetahui DNA Nilai Moral Anda

Saya sedang mempersiapkan bahan untuk murid-murid saya mempelajari pedoman untuk menghadapi ethical dilema dalam kehidupan bisnis, ketika saya menemukan Artifical Intelligence (AI)  yang dapat membantu kita dalam hitungan menit menemukan jati diri kita.

Proses kita mengambil keputusan etika menurut Treveno dan Nelson (2014) melalui tiga tahapan: memahami masalah etika,  proses penilaian etika,  dan pengambilan keputusan etika.

Kemampuan kita memahami masalah etika di tempat kita bekerja di tentukan oleh bagaimana kita menilai pimpinan dan teman kerja kita akan menilai masalah tersebut.  Jika meng-copy pekerjaan orang lain dan mengganggap sebagai pekerjaan sendiri menurut kita bukan masalah etika bagi para pimpinan atau teman kerja kita,  sudah pasti kemampuan kita untuk mengidentifikasi masalah etika akan lemah atau rendah.  Radar etika kita tidak akan dapat menangkap kejadian yang dianggap sangat tidak beretika di dunia pendidikan.

Kita juga bisa mengendus adanya masalah etika di tempat kerja kita jika kita mau menggunakan bahasa etika dalam kegiatan yang kita lakukan.  Coba gunakan kata Plagiat atau mencuri dalam kasus mengcopy pekerjaan orang lain.

Cara ketiga mengendus masalah etika di tempat kerja kita adalah jika kita memiliki kemampuan untuk menghitung dampak perbuatan mengcopy pekerjaan orang lain itu kepada orang yang memiliki pekerjaan dan kepada organisasi tempat kita bekerja.  Bayangkan jika tempat kita bekerja di ketahui orang sebagai tempat para plagiator.

Setelah kita mampu mengendus masalah etika yang ada di hadapan kita,  selanjutnya kita menilai masalah etika ini untuk menentukan salah dan benar dari tindakan yang kita lakukan.  Proses kita menilai tindakan dengan etika dilema ini bergantung salah satunya kepada style pengambilan keputusan etika kita, preferensi nilai-nilai moral kita.  Pada umumnya, kita di kelompokan kedalam group orang-orang idealis atau group realistis. Pertimbangan orang yang idealis lebih kepada hasil yang terbaik bagi stakeholder. Sedangkan,  orang-orang yang realistis akan mengambil keputusan yang paling bisa segera dilaksanakan.

Nah pada saat inilah saya perlu alat bantu untuk menilai gaya pengambilan keputusan etika para mahasiswa/i saya.  Saya ingin mereka mengetahui style mereka.

Melalui bantuan AI yang namanya Google saya mendapatkan mesin AI yang namanya MoralDNA.  Hanya dalam hitungan detik setelah kita menjawab kuesioner secara jujur,kita akan mengetahui gaya pengambilan keputusan etika kita.

Moral DNA membagi kita menjadi seseorang dengan karakterl: Filosuf,  Hakim, Malaikat (Angel),  Penegak Hukum,  Pelindung (Guardian).

Silahkan anda cari tahu siapa diri anda.  Hasilnya penting untuk mengembangkan karir dan kehidupan pribadi anda. Kita bisa diskusikan hasilnya secara pribadi.

https://profile.moraldna.org/gen/user/register.php#

Salam

Bambang Setiono

Catatan: menurut pengelola MoralDNA, data anda dirahasiakan.  

 

Karir Wartawan atau Jurnalis Terancam

Jika anda berprofesi sebagai wartawan atau jurnalis,  berhati-hatilah. Sejak akhir tahun 2017, teknologi Artificial Inteligence (AI) telah berhasil membuat berita media dalam waktu yang lebih cepat daripada berita yang biasanya dibuat oleh wartawan.

Simak beritanya di bawah ini:

Today’s AI is super impressive, but it’s not intelligent.

https://www.vox.com/videos/2017/12/19/16792294/artificial-intelligence-limits-of-ai

SKK Migas Goes to Poliban

ALFED menggalang kerjasama dengan SKK Migas untuk melaksanakan kegiatan Literasi Hulu Migas di kampus Politeknik Negeri Banjarmasin (Poliban) pada tanggal 27 April 2018.

Kegiatan ini bertujuan untuk meningkatkan pengetahuan sivitas akademika  di Banjarmasin tentang peran dan tantangan industri hulu migas di masa lalu dan akan datang.

Ikuti kisahnya di Steller di bawah ini:
https://steller.co/s/8A4rRSaMHVD

Pelantikan Pengurus Daerah ALFED Wilayah Banjarmasin

Pada tanggal 27 April 2018, Ketua Umum ALFED melantik Pengawas dan Pengurus Pengurus Daerah ALFED Wilayah Banjarmasin bertempat di Politeknik Negeri Banjarmasin (Poliban) .

Pengurus Pusat ALFED mempercayakan Bu Ayu untuk menjadi Ketua Pengda ALFED Banjarmasin periode 2018-2021.

Selamat kepada para pengawas dan pengurus yang terpilih.  Selamat berkarya dan berhasil mencapai cita-citanya.

Ikutilah ceritanya melalui Steller di bawah ini:

https://steller.co/s/8AD382FJNDE