Tersandera Politik

Bambang Setiono –Dosen Akuntansi Universitas Sampoerna

Pejabat publik yang tersandera politik tidak akan mampu mengelola sumber daya negara yang dipercayakan kepadanya secara adil dan amanah. Merekat tidak berdaya melawan kepentingan kelompok masyarakat yang telah memberikan dukungan ekonomi, sosial, maupun politik pada saat pemilihannya menjadi pejabat publik. Pejabat publik yang tersandra politik tidak akan memiliki terobosan-terobosan untuk mengatasi masalah fundamental masyarakat seperti kemiskinan, ketimpangan penguasan lahan, dan bentuk ketidak adilan lainnya. Bagaimana masyarakat dapat mengetahui adanya pejabat publik yang tersandra politk?

Hari ini adalah tanggal 1 Muharam 1440 H, tahun baru Islam. Untuk menyambut tahun baru Islam ada baiknya kita belajar dari para pemimpin Islam dalam memilih pemimpin politik yang tidak tersandera politik. Memilih pemimpin adalah keputusan yang penting yang harus diambil oleh para pemimpin masyarakat. Mereka harus membantu masyarakat agar dapat memilih pemimpin yang tidak tersandra politik. Bahkan pada saat Nabi Muhammad saw wafat pada tahun 10 H, para pemimpin Islam pada saat itu harus segera mengambil keputusan tentang siapa yang harus menggantikan posisi Nabi sebagai pemimpin umat dan masyarakat di seluruh Semenajung Arab yang akan mampu mempertahakan komunitas Islam yang baru terbentuk. Karena gentingnya situasi pada saat itu, pertemuan pemilihan pengganti Nabi dilakukan sebelum jasad Nabi dimakamkan.

Sistem yang digunakan untuk memilih pemimpin masyarakat pengganti Nabi bukan sistem demokrasi dengan one person one vote. Sistem yang digunakan adalah sistem demokrasi perwakilan, one group one vote. Nabi Muhammad saw belum mempersiapkan penggantinya sehingga timbul perselisihan antara masyarakat yang ditinggalkan oleh Nabi hingga saat ini. Kesepakatan tidak tercapai antara kelompok masyarakat yang Ingin menggunakan sistem kerajaan untuk memilih pengganti posisi Amir dari seluruh suku Arab yang didukung oleh Kelompok Ansor dengan kelompok masyarakat yang ingin menggunakan sistem demokrasi perwakilan secara musyawarah yang dimotori oleh kelompok Muhajirin dari Suku Quraisy. Inilah awal perpecahan umat Islam yang terus terjadi hingga hari ini antara Islam Syiah dan Suni.

Namun demikian, pemilihan pemimpin masyarakat Arab pengganti Nabi di Saqeefa Bani Sa’dah, sebuah tempat di Madinah, berjalan secara demokratis. Kelompok Ansor yang telah berjasa memberikan tempat dan bantuan kepada Nabi berdebat secara terbuka dengan Kelompok Muhajirin yang meninggalkan semua hartanya untuk berjuang bersama Nabi tentang kelompoknyalah yang paling berhak untuk menggantikan Nabi sebagai Amir atau pemimpin masyarakat Arab. Kelompok Ansor ingin Sa’d bin Ubadah untuk menjadi pemimpin baru masyarakat Arab. Kelompok Muhajirin yang di wakili oleh Abu Bakar Sidiq berpendapat suku-suku Arab tidak akan menerima kepemimpinan dari Kelompok Ansor yang diantara mereka sendiri terjadi perbedaan diantara dua suku utama Kelompok Ansor. Abu Bakar menawarkan dua calon dari Suku Quraisy untuk menjadi Amir penggganti Nabi, yaitu Umar bin Khatab dan Abu Ubaidah. Abu Bakar menawarkan jalan tengah dengan menawarkan jabatan Menteri yang otonom kepada pemimpin Kelompok Ansor yang akan selalu dikonsultasikan dalam setiap pengambilan keputusan. Menjawab proposal dari Kelompok Muhajirin ini, Habad bin Mandhar dari Kelompok Ansor menawarkan adanya dua Amir atau pemimpin, satu dari Ansor dan satu dari Muhajirin. Proposal ini di tolak oleh Umar sehingga terjadi debat panas antara Umar dan Habad yang hanya dapat diredakan setelah Abu Ubaida memohon agar Ansor yang telah menjadi penolong Islam pertama kali tidak menjadi yang pertama kali pula memecah belah Islam. Himbauan Abu Ubaida ini diterima oleh beberapa pemimpin Ansor kecuali Sa’d bin Ubadah.

Ketika proposal pengganti Nabi telah disepakati diberikan kepada Suku Quraisy, voting dimulai secara terbuka dengan Abu Bakar mengusulkan kembali kepada para pemimpin suku yang hadir untuk memilih Umar atau Abu Ubaida . Voting pertama justru di lakukan oleh Umar yang memilih Abu Bakar sebagai Amir dengan langsung meminta Abu Bakar untuk berdiri dan menyentuh tangannya sebagai lambang kepatuhan atau baiat kepada Abu Bakar. Abu Ubaida kemudian menyusul langkah Umar dengan memberikan tanda kepatuhan kepada Abu Bakar. Seluruh pemimpin Ansor juga melakukan baiat kepada Abu Bakar kecuali Sa’d bin Ubadah.

Abu Bakar yang dipilih secara musyawarah dan demokratis tidak memiliki beban politik yang membuat dia tersandera dalam melaksanakan tugasnya sebagai Amir seluruh Suku Arab. Dia tidak membayar kepada para pemimpin Suku Arab atau membuat kesepakatan politik sebelum ia dipilih sebagai Amir. Bahkan dia tidak mengajukan dirinya untuk dipilih. Abu Bakar diminta oleh Umar untuk menjad Amir seluruh suku bangsa Arab karena rekam jejaknya dalam memperjuangkan Islam selama bersama Nabi. Karena Abu Bakar tidak tersandrra secara politik, is dapat berjanji menjadi Amir yang adil dan amanah.

Dalam pidato setelah pemilihannya, Abu Bakar menyatakan kata-kata yang menunjukan bahwa dirinya tidak memiliki beban politik yang dapat membuatnya tersandera umtuk melakukan tindakan yang adil dan amanah kepada masyarakat yang dipimpinnya. “Aku bukanlah orang yang terbaik, kalau aku benar tolonglah aku, dan kalau aku salah luruskanlah. Kejujuran sama dengan melaksanakan kepercayaan dan berbohong sama dengan mendustai kepercayaan. Kalau engkau orang miskin dekatlah denganku sehingga aku dapat memberikan hakmu. Jika engkau orang kuat engkau akan lemah di hadapanku sampai aku dapat mengambil hak orang lain yang ada padamu. Tidak boleh ada kelompok yang meninggalkan pasukan yang berperang di jalan Allah dan tidak boleh ada ketidak adilan yang meluas dimasyarakat kecuali karena Allah menghendakinya. Patuhi aku selama aku mematuhi Allah dan UtusanNya. Jika aku tidak mematuhi Allah dan UtusanNya, saya tidak memiliki hak untuk dipatuhi.”

Seorang pemimpin masyarakat harus menjaga kepercayaan yang diberikan oleh masyarakat yang memilihnya agar dapat menjadi pemimpin yang kuat. Kepercayaan dari pemilih adalah sumber kekuatan seorang pemimpin yang membuat yang lemah menjadi kuat bersamanya dan membuat yang kuat memenuhi kewajibannya kepada negara dan masyarakat yang lemah. Kepercayaan yang dapat memberikan kekuatan kepada seorang pemimpin adalah kepercayaan yang di peroleh tanpa adanya transaksi ekonomi untuk memilihnya. Sebagaimana dicontohkan oleh Abu Bakar Siddiq, kepercayaan yang memberikan kekuatan ini terjadi kalau kepercayaan itu diberikan oleh masyarakat atau pemimpin masyarakat. Bukan kepercayaan yang diminta apalagi dibeli dari masyarakat dan pemimpin masyarakat.

Jika seseorang ingin sekali menjadi pemimpin masyarakat dan atau tidak memiliki rekam jejak keberhasilan, biasanya orang ini akan melakukan transaksi ekonomi dengan para pemimpin masyarakat agar dapat mempengaruhi masyarakat untuk memilihnya . Pemimpin seperti ini tidak akan memiliki kepercayaan masyarakat yang dapat menjadi sumber kekuatan membela yang lemah dan menekan yang kuat. Pemimpin seperti ini akan mengharapkan keuntungan ekonomi dari jabatannya dan ia akan tersandera politik dengan kepentingan para pemimpin yang telah melakukan transaksi ekonomi dengannya.

Mari kita memilih pemimpin yang tidak tersandera politik dengan ciri-ciri sebagaimana diperlihatkan oleh Abu Bakar Siddiq. Semoga tahun ini, kita bisa lebih berhasil dalam mewujudkan pemerintahan yang kuat membela masyarakat yang lemah dan menekan kelompok yang kuat untuk melaksanakan kewajibannya kepada negara dan masyarakat lemah.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *