Sepakbola dan Kehidupan

Asep Saefuddin

Rektor Universitas Al Azhar Indonesia/Guru Besar Statistika FMIPA IPB

Saat ini hampir seluruh mata pecinta bola di dunia tertuju ke Rusia. Perhelatan Piala Dunia setiap 4 tahun itu memang mempunyai arti sendiri. Bukan sekedar tontonan mengasyikkan, tetapi juga ada nuansa nasionalisme yang tinggi. Piala Dunia merupakan campuran antara keterampilan, profesionalisme dan emosionalitas kebangsaan. Mereka sedang membawa nama besar negaranya. Bukan sekedar profesionalitas bermain yang tentu penting, tetapi semua itu dipersembahkan untuk bangsa dan negara. Tidak jarang para pemain kunci kemudian menangis sejadinya ketika mereka bisa membawa timnya maju ke babak berikutnya.

Kita bisa melihat permainan juga penontonnya. Para penonton terbelah menjadi dua kubu sesuai dengan pola kompetisi sepak bola. Basis pengelompokannya secara umum adalah negara-bangsa. Mereka juga berpakaian mengikuti pakaian grup negaranya.

Emosi penonton termasuk pemirsa TV terbawa secara langsung oleh permainan. Mereka terlihat gembira, sedih, kecewa. Ekspresi spontannya sangat terlihat jelas. Termasuk mereka yang masih balita. Emosi semakin kentara manakala mereka berasal dari negara yang sama dengan tim sepak bola yang sedang bermain. Kegembiraan atau kesedihan yang sangat nyata.

Kita orang Indonesia tidak luput dari emosionalitas ini. Tetapi keterikatannya cukup beragam, alasannya macam-macam. Tanpa disadari kita berkeinginan tim Asia untuk menang bila negara perwakilan Asia itu sedang berlaga. Daya ikat semakin terasa ketika Jepang atau Korsel sedang melawan tim non Asia. Orang Amerika yang periode ini tidak ada negara USA di Piala Dunia tetap memborong tiket nobar di Rusia. Mereka mendukung negara asal usul nenek moyangnya. Bisa Inggris, Jerman, Italia, dan umumnya negara Eropa.

Rasa kedekatan emosionalitas dalam Piala Dunia ini memang lebih banyak berkaitan dengan identitas. Kita juga menjadi cukup emosional ketika negara yang bermain adalah tempat kita pernah sekolah di situ. Mereka yang alumni Jerman akan mendukung skuad Jerman. Begitu juga mereka yang sempat sekolah di Prancis, akan membela “Le Bleu”. Emosionalitas ini mengalahkan rasa kagum kita pada idola pemain. Bayangkan bila dari 32 negara yang ikut Piala Dunia itu ada tim Garuda, dijamin kita akan satu suara, kompak, bisa mengalahkan hiruk pikuk politik.

Di lapangan kita bisa melihat pola kerjasama tim, saling berbagi, keterampilan yang tinggi, saling melindungi. Mereka menghadapi lawan yang nyata, di depan mata. Pada saat yang sama mereka juga memperlihatkan sportifitas tinggi. Akan tetapi ada juga kecurangan yang mereka buat. Untungnya ada wasit yang melakukan pengamatan terus menerus. Wasit bisa memberikan hukuman ringan (tendangan bebas), menengah (kartu kuning) dan berat (kartu merah). Semua ini membuat pemain bermain tanpa melakukan kecurangan. Semua itu membuat permainan menjadi indah, walaupun mendebarkan.

Para pelatih tentu telah mengatur strategi secara umum. Pola ini tidak harus dipegang secara kaku, tetapi fleksibel tergantung keadaan. Bila pada ronde pertama timnya tidak membuahkan hasil yang bagus, strategi bisa dirubah pada babak kedua. Pola ini juga dicampur dengan pergantian pemain oleh pemain cadangan yang telah mengamati keadaan sejak detik pertama.

Sebelum peluit panjang berbunyi, mereka terus bermain dengan penuh semangat. Walaupun dalam posisi kalah, mereka tetap memperlihatkan daya juang yang tinggi, sampai titik darah penghabisan. Daya juang inilah yang diperlukan dalam kehidupan sehari-hari.

Intinya dalam kurun waktu sekitar 90 menit kita bisa belajar kehidupan dari permainan bola. Olah raga ini cukup lengkap, campuran antara emosionalitas, intelektualitas, keterampilan, kesabaran, ketekunan, perjuangan tanpa mengenal lelah. Semua kemampuan para pemain ditumpahkan untuk nama besar negara. Itulah kihudupan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *