Mencetak Pengusaha Kelas Dunia: Belajar dari Li Shufu Membuat Volvo Bangkit dari Mati Suri

                                                        “Who knows how many roads are in front of you?” (Li Shufu, Geely Owner)

 

Bambang Setiono

Fakultas Bisnis-Universitas Sampoerna

 

Perkawinan ada yang berhasil dan ada yang gagal, dan untuk perkawinan atau merger di industri mobil biasanya sering mengalami kegagalan.  Contoh saja, merger antara Ford dan Volvo,  Daimler dan Chrysler, General Motors dan Saab, serta Ford dan Jaguar. Semua perkawinan ini berakhir menyedihkan. Cerita perkawinan yang menarik muncul dari perkawinan yang tak terbayangkan oleh siapapun dari sebuah perusahaan pembuat mobil kelas bawah di China, ketika Geely membeli Volvo dari Ford pada tahun 2010.

Pemilik Geely,  Li Shufu membelli Volvo dari Ford dengan harga obral sebssar $1.8 miliar (seperempat dari harga beli Volvo yang di bayar oleh Ford ) dalam bentuk kas dan hutang.  Pada saat membeli Volvo, Geely adalah mobil dengan kualitas no.36 di China dengan pendapatan seperenam dari pendapatan Volvo. Sementara Volvo pada saat itu sedang mati suri karena Ford tengah mengalami kesulitan keuangan.

Bagaimana seorang Li Shufu mampu membeli Volvo yang jauh lebih besar dan lebih berkualitas dari dirinya?  Bagaimana Li Shufu merubah Volvo yang hampir mati menjadi  perusahaan yang mencatatkan prestasi luar biasa pada tahun 2017 dengan penjualan 571.577  mobil, keuntungan operasional  $1.76 miliar dan penjualan  $26.3 miliar?  Volvo saat ini di perkirakan bernilai  $30 miliar (Mei 2018) dan akan segera melakukan go public.

Mari kita belajar dari kesuksesan Li Shufu.

Pertama, Li Shufu adalah seorang entrepreneur sejati. Dia memulai menciptakan produk sejak usia sepuluh tahun ketika membuat model mobil pertamanya. Setelah dia menyelesaikan sekolah manajemen industri di Harbin University of Science & Technology, dia memulai debutnya dengan membuat kamera murah dengan modal pinjaman $16 dari ayahnya pada usia 17 tahun. Bisnis ini gagal.  Kemudian dia membuat lemari es merek Artic Flower yang juga gagal.  Kemudia Li membuat perusahaan dengan nama Geely yang artinya keberuntungan.  Namun setelah terjadinya tragedi Tiananmen pada tahun 1989, dia memutuskan sekolah lagi untuk menjadi master teknik mesin di Yanshan University. Kemudian Li membuat sepeda motor dengan harga setengah dari sepeda motor Jepang pada tahun 1993. Baru pada tahun 1997, Li memulai membuat mobil sendiri.  Sebelum tahun 2002, Li selalu gagal membuat mobil murah yang memenuhi standar kualitas.  Akhirnya, Li berhasil membuat mobil yang memenuhi harapannya “the Free Cruiser” dengan bantuan design dari pabrik mobil Daewoo di Korea Selatan.

Cerita sukses Li Shufu di industri atomotif di awali dengan pembelian Volvo. Tentu saja pada awalnya Ford tidak menganggap serius tawaran dari Li. Namun dengan jiwa wirausahanya, Li mencari jalan untuk meyakinkan Ford bahwa Geely mampu mengelola Volvo. Li mengajak dua pemerintah daerah di China untuk ikut investasi membeli Volvo.

Selanjutanya adalah cerita sukses Li Shufu menjadi pengusaha sukses kelas dunia. Li melakukan investasi di berbagai perusahaan seperti, Daimler AG pembuat mobil Mercedes-Benz (7,9%),  Lotus, mobil sport dari Inggris (51%), dan Proton Malaysia (49.9%). Li juga investasi $3,3 miliar di Volvo AB, perusahaan pembuat truk Volvo dan memiliki seratus persen pabrik mobil terbang Terrafugia di Amerika Serikat.

Kedua, nilai dan etika yang kuat dari Li Shufu. Sejak dari awal Li selalu ingin membuat sesuatu yang berguna untuk masyarakat luas khususnya golongan yang belum dapat menikmati produk-produk yang memerlukan teknologi tinggi.  Li ingin membuat semua masyarakat bisa memiliki mobil dan motor dengan harga murah dan berkualitas.  Untuk mencapai tujuan mulia ini, Li tahu bahwa dia tidak bisa bekerja sendiri. Li percaya dengan kerjasama antara berbagai kekuatan didalam atau di luar industri mobil akan mampu menghadapi persaingan dari indsutri berbasis teknologi seperti Google dan Uber.  Li juga percaya bahwa kerjasama itu untuk tujuan jangka panjang sehingga dia tidak terlalu fokus kepada kinerja keuangan kuartalan yang sering menjadi fokus perusahaan-perusahaan di dunia. Li mengelola Volvo dengan nilai dan etika seperti ini sehingga manajemen Volvo dapat terus berinovasi dalam keunggulan teknologinya dan menjadi perusahaan yang sehat kembali.  Teknologi Volvo kemudian digunakan untuk meningkatkan kualitas mobil Geely sehingga mampu menjadi mobil yang lebih dipercaya masyarakat. Li tidak mengelola secara mikro (detail) Volvo sebagaimana banyak di lakukan oleh perusahaan-perusahaan yang mengakuisisi perusahaan lain.

Ketiga, dukungan pemerintah dan pasar yang kuat. Biasanya perusahaan dengan teknologi tinggi di miliki oleh pemerintah China.  Geely adalah perusahaan swasta yang sampai saat ini belum ada tanda-tanda pemerintah China akan mengendalikan sepak terjang Li yang semakin mendunia.  Masyarakat China juga menghargai produk Volvo dan Geely.  Volvo berhasil menjual 90,417 mobiil di China pada tahun 2017 sementara pada tahun 2010 baru mampu menjual 30,522  unit. Penjualan mobil Geely juga meningkat pesat pada tahun 2017 yang mencapai tiga kali lipat dari penjualan tahun 2010. Volvo juga mampu mengembalikan sebagian besar pinjaman senilai $2 miiar dai Bank Pembangunan China.

Keempat, strategi  yang tepat dan tidak pernah lekang dari inovasi. Untuk menjadi perusahaan mobil kelas dunia, Li harus mampu membuat produk yang di terima di Amerika Serikat.  Untuk itu, ia membangun pabrik Volvo di sana. Li Shufu tak pernah berhenti berinovasi dan memberikan kesempatan kepada para manajernya untuk mengambil keputusan untuk berinovasi.  Sejak berdirinya di Gothenburg  Swedia pada tahun 1927, Volvo dikenal sebagai perusahaan inovator dan  Hakan Samuelsson, CEO  Volvo Car Group akan terus mempertahankan reputasi tersebut. Volvo sedang mempersiapkan Volvo serie S60 sedan dan XC90  SUV di pabriknya di Charleston, South Carolina untuk penjualan di Amerika.  Volvo Amerika akan mengekspor S60 dan XC90 ke China dan pasar luar Amerika Serikat lainnya. Volvo dan Geely membuat anak perusahaan Polestar yang sedang memproduksi mobil hybrid (listrik dan bensin) seharga $155,000. Samuelsson memiliki target pada akhir 2025 separuh dari produk Volvo adalah mobil listrik.

Dari pelajaran di atas, saya berharap Pemerintah Indonesia dapat melahirkan Li Shufu versi Indonesia. Caranya bisa di mulai dengan membuat sistem seleksi wirausaha harapan dengan kriteria telah  teruji kualitas wirausahanya (pantang menyerah membuat produk sejak muda) dan memiliki nilai dan etika yang kuat. Jika memenuhi kedua syarat ini, pemerintah dapat memberikan dukungan mereka kepada akses pasar dan keuangan yang seluas-luasnya. Berikan mereka kesempatan untuk berinovasi.

Semoga lahir pengusaha Indonesia kelas dunia.

 

 

Referensi:

https://www.bloomberg.com/news/features/2018-05-24/volvo-is-better-than-ever-thanks-to-this-chinese-billionaire

https://successstory.com/people/li-shufu

https://www.forbes.com/sites/pamelaambler/2018/01/23/volvo-geely-the-unlikely-marriage-of-swedish-tech-and-chinese-manufacturing-might-that-earned-record-profits/#2bb5ae9f4ecc

 

 

One Reply to “Mencetak Pengusaha Kelas Dunia: Belajar dari Li Shufu Membuat Volvo Bangkit dari Mati Suri”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *