Perguruan Tinggi Asing

Asep Saefuddin

Rektor Universitas Al Azhar Indonesia/Guru Besar Statistika FMIPA IPB

Saya menganggap bahwa ide perizinan pembukaan/pendirian PT asing agak terlambat. Akan tetapi lebih baik telat daripada tidak ada sama sekali. Mengapa? Karena pada hakekatnya PT itu berkaitan dengan peningkatan mutu SDM, penguatan inovasi, riset, dan upaya mendorong ekonomi berbasis sains (K-economy). Artinya, tidak perlu ada yang dikhawatirkan dengan kehadiran PT asing tersebut. Malaysia dan Singapura menerapkan kebijakan pembukaan PT asing ini sudah lama. Bahkan ketika membuka INSEAD di Singapura, teman saya bilang “tidak perlu terbang ke Paris untuk menjadi mahasiswa INSEAD, cukup ke Singapur saja!”. Ada juga yang bilang “mutu INSEAD bisa diperoleh dengan biaya terjangkau di Singapur!”.

Pola ini berefek bagi para profesional yang ingin menambah ilmunya langsung dari profesor PT asing yang terkenal. Karena profesornya itu yang didekatkan ke konsumen (pasar). Para profesional ASEAN cukup pergi ke Singapur untuk memperoleh ilmu dan mutu INSEAD, Harvard, dll. Model ini juga diterapkan di Malaysia yang memiliki Monash Campus. Dari sistem keterbukaan ini, kedua negara itu mendapatkan devisa dari dunia pendidikan tinggi mereka. Mungkin kita masih berpikiran bahwa devisa itu harus dari produk tanggible seperti migas, pertanian, produk-produk kerajinan tangan atau paling banter sektor pariwisata. Pendidikan tinggi, sepertinya dikeluarkan dari daftar penghasil devisa.

Sebenarnya globalisasi dan keterbukaan dunia mulai terasa denyutnya di pertengahan dekade 90. Saat itulah selayaknya kita sudah membahas pendidikan tinggi asing di Tanah Air. Keterbukaan atau globalisasi ini semakin ke sini semakin nyata dipercepat dengan adanya teknologi digital super canggih. Kecuali kalau kita ingin terus menjadi penonton perkembangan dunia, tidak perlu kita membahas keinginan masuk PT asing. Sudah pasti kita akan semakin terisolir karena geografis kita pun mendukung keterkungkungan. Dan yang akan terjadi adalah ketertinggalan yang semakin nista.

Kita paham Perguruan Tinggi itu berfokus di ceruk ilmu pengetahuan dan teknologi. Sehingga tidak perlu ada yang dikhawatirkan dengan kehadirannya di Indonesia. Bahkan kita dapat mengoptimumkannya untuk mendongkrak kapasitas inovasi, kreatifitas, riset, dan penyebaran hasil penemuan untuk kepentingan masyarakat. Kesungguhan PT asing dalam kegiatan mencari ilmu pengetahusn dan mengembangkan teknologi bisa menjadi virus kebaikan masyarakat setempat dan bahkan nasional. Dampak positif kehadiran PT (asing dan lokal) terhadap sosial, ekonomi, dan lingkungan harus dikapitalisasi.

Untuk mempercepat K-society saya beranggapan ijin pembukaan PT asing ini harus dipermudah dan dipercepat. Akan tetapi sebaiknya diprioritaskan di daerah luar Jawa, daerah perbatasan, dan daerah tertinggal. Dalam hal program studi diarahkan untuk vokasi atau politeknik berkaitan dengan kebutuhan industri, pariwisata, pertanian, peternakan, dan perikanan. Selain itu, bisa juga beberapa PT asing yang diminta fokus pada riset dan pengembangan sanis-teknologi. Sehingga konsentrasinya di program pascasarjana berbasis riset, tidak perlu program sarjana. Output dari risetnya adalah paten dan paper di jurnal berbobot. Adapun topik riset didasarkan pada upaya solusi persoalan industri, lingkungan, pertanian dan kemaritiman. Sehingga masyarakat dapat merasakan manfaat dari keberadaan PT asing itu.

Adapun di perkotaan, walaupun tidak perlu banyak, PT asing diarahkan ke universitas entrepreneurial. Di sini bisa campuran program vokasi dan keilmuan secara interdisipliner. Ekosistem yang dibangun adalah bisnis dengan kewajiban membuat startup company (perusahaan rintisan). Kalaupun ada program pascasarjana cukup setingkat magister untuk analisis data besar, hukum kontruksi, manajemen digital, dan bidang-bidang lainnya yang berkaitan disrupsi digital.

Bila pemikiran ini disetujui, baru kita masuk ke masalah kelembagaan, kepemilikan saham, mergerisasi, dan lain-lain yang bersifat teknis. Sementara ini, yang perlu dipahami adalah kesamaan pikiran perlunya PT asing di Indonesia berfokus pada sains, teknologi, vokasi, entrepreneurship. Dunia semakin global dan rata (flat), tidak perlu ada yang dikhawatirkan dengan kehadiran PT asing. Yang penting kita harus mau untuk berperilaku profesional modern. Tidak perlu menutup mata terhadap kemajuan zaman.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *