Pengembangan Perguruan Tinggi Berbasis Klaster

Asep Saefuddin
Rektor Universitas Al Azhar Indonesia/Guru Besar Statistika IPB

Assalamu’alaikum warrahmatullahi wabarakatuh,
Selamat pagi dan salam sejahtera untuk kita semuanya.
Semangat pagi!!

Selamat Dies Natalis UTM XVII dan semoga terus maju dalam membangun SDM, sains dan teknologi serta implementasinya untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat khususnya di Madura. Saya sangat bangga dan tersanjung mendapatkan kesempatan bicara di hadapan civitas akademika Universitas Trunojoyo Madura (UTM) dan mitra-mitra UTM yang hadir pada kesempatan ini. Terima kasih atas undangan Bapak Dr. Muhammad Syarif sebagai Rektor UTM kepada saya untuk bicara di forum yang sangat terhormat ini. Pada kesempatan ini saya hadir bersama teman-teman yang mempunyai banyak pengalaman dalam kegiatan biobased business baik dari kelembagaan dan juga teknologinya. Mereka adalah Dr. Kamaluddin Zarkasi, Dr. Widiyanto Dwi Surya, dan Dr. Kolier Heryanto. Tentunya mereka bersedia membantu menindaklanjuti ide-ide yang berkembang dari pertemuan sekarang ini.

Di dalam paper ini saya akan menyampaikan secara umum hal-hal yang berkaitan dengan trend dunia dewasa ini (slide 1). Tentunya hal itu saling kait mengait antara sains, teknologi dan faktor lainnya yang berkaitan dengan masalah lingkungan, demografi dan lain-lainnya. Kemudian sedikit saya akan menyimak tentang phase revolusi industri sampai efek dari disrupsi teknologi.

Sesuai dengan permintaan, saya juga akan mencoba mengangkat strategi pendidikan tinggi berkaitan dengan klaster industri. Upaya agar UTM bisa menguasai klaster industri sesuai dengan kekuatan SDA Madura dari hulu sampai hilir. Kemudian penguasaan pasar baik skala lokal dan nasional ataupun internasional. Secara kelembagaan unit-unit apa saja yang harus dibangun agar kekuatan klaster ini bisa sustained. Hal ini pun bisa menjadi sumber pendapatan UTM sehingga kampus ini bisa melakukan terus Tri Dharma dari masa ke masa.

Masalah Dunia dan Revolusi Industri

Dengan semakin banyaknya populasi manusia dengan volume bumi yang tetap tentu akan menimbulkan persoalan yang tidak sederhana (slide 2). Belum lagi ada unsur keinginan manusia yang selalu ingin lebih. Tentunya hal ini harus dikelola dengan baik agar tidak menyebabkan ekonomi serakah (greedy economy). Pengelolaan yang baik dari persoalan-persoalan dunia maka akan melahirkan penemuan-penemuan baru dan menjadi solusi.

Kelebihan manusia dibandingkan dengan makhluk lainnya adalah di dalam melakukan konservasi, pengembangan, ekspansi, mencatat dan meneruskan dari generasi ke generasi. Sehingga manusia mempunyai seni, budaya, sains dan teknologi yang terus menerus berkembang dari masa ke masa. Dengan adanya perbedaan lokasi, alam, iklim, maka ada beberapa keunikan budaya yang khas di suatu negara atau daerah. Keunikan ini akan terus menjadikan suatu wilayah mempunyai kebijakan dan tradisi lokal (local tradition and local wisdom). Perbedaan-perbedaan ini juga yang membuat kebudayaan manusia menjadi indah. Pola keteraturan ini tentu tidak dimiliki hewan, tumbuhan, atau makhluk lain ciptaan Allah SWT. Inilah yang disebut peradaban. Hewan hanya mampu mengkonservasi tetapi tidak bisa mengembangkan.

Ringkasnya kita akan terus berhadapan dengan persoalan dan solusi yang kait mengait berkaitan dengan lingkungan, sosial, politik, ekonomi, budaya, demografi, sains dan teknologi. Kompleksitas persoalan ini telah membuat manusia semakin kreatif dalam penemuan-penemuan baru. Inilah yang menyebabkan adanya revolusi industri. Berbeda dengan zaman sebelumnya dimana manusia hanya menggunakan alat-alat sederhana untuk menjaga kelangsungan hidup.mereka. Pada saat revolusi industri itu peranan akal dalam menemukan teknologi baru itu sangat dominan. Dengan demikian terjadi suatu akselerasi yang luar biasa. Semakin ke sini jarak antar penemuan baru semakin singkat.

Di awal revolusi industri (RI 1.0) (slide 3) penemuan alat dan teknologi untuk kepentingan industri ditandai dengan perkembangan mesin uap dan tenaga air. Hal itu dipicu dengan kebutuhan budidaya pertanian untuk keperluan pangan. Alvin Tofler menyebut masa ini sebagai abad pertanian (Agriculture Era). Secara kurun waktu RI 1.0 terjadi pada tahun 1750-1850. Pada saat itu mulai adanya kelompok ilmuwan bergabung untuk kemajuan riset seperti The Royal Society of England, L’academie des sciences de France. Bersamaan juga hadir tokoh-tokoh ilmuwan barat seprti Francis Bacon, Renè Decartes, Galileo Galilei, dan banyak lagi generasi saat itu.

Revolusi Industri II dipicu oleh kebutuhan sandang dan pangan yang semakin meningkat. RI 2.0 ini ditandai dengan adanya produksi besar-besar dan peranan listrik (electricity). Mulai berkembang pabrik-pabrik campuran antara manual dan otomatisasi. Pada saat itu mulai diperlukan spesialisasi pekerjaan dalam chain production (produksi berantai). Bintang film Charlie Chaplin menggambarkannya dengan gerakan otomatis ala robot yang akhirnya terbawa-bawa sampai ke rumah. Alvin Toffler menyebutnya sebagai abad industri (Industrial Era). RI 2.0 ini terjadi sekitar tahun 1870 sampai awal Perang Dunia I (1914). Pada saat ini pula mulai ditemukan komunikasi jarak jauh melalui pesawat telepon.

Revolusi Industri 3.0 merupakan peralihan abad industri ke abad informasi dan mulai ada digitalisasi. Pada masa RI 3.0 ini otomatisasi mulai dominan menggantikan peran manusia serta menguatnya teknologi informasi. Ruang dan waktu semakin tidak ada batasnya. Super komputer mulai ditemukan pada saat ini sehingga membantu penyimpanan data dalam pita dan pelat. Kampus-kampus mulai mempunyai pusat data, informasi, dan komputasi canggih menggantikan mesin-mesin hitung semi manual. Pada saat ini juga banyak pabrik-pabrik ukuran besar mulai redup dan lalu bangkrut. Pada saat yang sama banyak para pekerja terpaksa alih fungsi atau menganggur akibat perkembangan teknologi.

Revolusi Industri 3.0 dipercepat dengan adanya disrupsi teknologi baru yang super canggih (slide 4), seperti adanya cloud computing, cyber, Internet of Things (IoT), big data, intelegensia buatan, dan termasuk di dalamnya adalah bioteknologi. Masa ini disebut Revolusi Industri 4.0 yakni di awal abad milenial (abad ke 21) yang oleh Alvin Toffler dikatakan mulainya gelombang informasi (Era Informasi).

Pada RI 4.0 ini kekuatan dan kecepatan digitalisasi semakin luar biasa kuat dan cepat. Akibatnya model-model bisnis konvensional yang mekanistis, linier, birokratis walaupun perusahaan besar banyak terdisrupsi oleh perusahaan kecil tetapi lincah. Pada saat ini pun keadaan semakin VUCA (Volatile, Ambiguity/Uncertainty, Complex, Agile), contoh di Indonesia misalnya GO – JEK online.

Ada beberapa pekerjaan yang terdisrupsi dalam RI 3.0 dan 4.0 ini (slide 5), seperti petani, peternak, petugas pos, penjahit, operator telepun, juru ketik, juru masak fast food, pegawai pabrik tekstil, dan sebagainya. Tentunya hal itu bersifat kasus per kasus dan berbeda dari negara ke negara. Akan tetapi sinyalnya adalah terjadi pengurangan kebutuhan bidang-bidang tersebut. Mereka yang kreatif dan fleksibel bisa tetap bertahan bekerja walaupun jenis pekerjaannya berubah.

Keadaan VUCA di RI 4.0 ini perlu dijawab oleh Perguruan Tinggi (PT) dengan membuat model Tri Dharma masa kini (slide 6). Misalnya PT mulai memanfaatkan IT untuk pendidikan dalam bentuk hybrid atau blended learning. Topik-topik riset yang memanfaatkan kecanggihan digital, IT, big data, dan kekuatan sumberdaya alam lokal. Reorientasi kurikulum dengan memanfaatkan IT, literasi baru dalam coding, big data, soft skill, humanitas, dan entrepreneurship.

Selain itu untuk meningkatkan daya saing PT Indonesia di tingkat dunia, diperlukan pengembangan model-model PT (slide 7), yaitu; (1). Klaster Kompetisi Internasional, terutama utk Perguruan Tinggi Negeri Badan Hukum (PTN BH), Perguruan Tinggi Negeri Badan Layanan Umum (PTN BLU) dan Perguruan Tinggi Swasta (PTS) besar utk meningkatkan level world class di 250 besar dunia. Berbagai riset yang high disruptive technology (inovasi baru). (2). Klaster Nasional dan Regional ASEAN untuk masuk 100 besar ASEAN dengan riset industri. (3). Klaster Nasional untuk penguatan Sumber Daya Manusia (SDM) nasional berbasis Sumber Daya Alam (SDA) daerah. Untuk itu perlu arah kebijakan PT masa depan yang mendapat perlindungan dan support yang sama dari pemerintah, khususnya pemda sebagai flag university yang menjadi institusi solusi kebijakan dan kebutuhan SDM kini dan masa depan yang maju, makmur dan sejahtera.
Prioritas Klaster Industri di Indonesia

Pada tahun 2008 Pemerintah telah menyusun klaster industri sesuai dengan karakteristik kekuatan sumber daya alam Indonesia (slide 8). Klaster ini tentunya dapat dimanfaatkan untuk penyusunan program Tri Dharma PT. Namun harus diikuti dengan teknologi dan manajemen sesuai dengan perkembangan industri maju RI 4.0.

Klaster itu mencakup industri agro (kelapa sawit, karet, kakao, kelapa, kopi, buah, tembakau, ikan, susu). Industri manufaktur (baja, semen, petrokimia, keramik, mesin, peralatan, listrik). Industri alat angkut (kendaraan bermotor, perkapalan, kedirgantaraan, perkeretaapian). Industri elektronika dan telematika (elektronik, telekomunikasi, komputer). Industri kreatif (perangkat lunak dan konten multimedia, fashion, kerajinan, barang seni). Industri kecil dan menengah (batu perhiasan, garam, gerabah, keramik hias, minyak atsiri, makanan ringan).

Kluster industri 2008 yang bertumpu SDA harus diubah secara tegas menuju industri maju (berteknologi tinggi) dan pada waktunya dalam tata kelola industri 4.0 di bidang manufaktur, agrikultur dan marikultur, serta pariwisata cerdas.

Posisi UTM mengembangkan varietas dan produktivitas jagung dan industri garam merupakan pilihan yang tepat dalam mengambil peran mandatory kebangsaan terutama dalam menyiapkan lapangan kerja penuh (full employment), memenuhi kebutuhan pangan dan industri, serta memajukan Universitas dibidang keilmuan dan riset terapan. Ini dapat dijadikan model pilihan, dan atau pengembangan PT di daerah yang memiliki potensial lokal yang luar biasa.

Pilihan ini tidak saja merupakan strategi baru dalam melengkapi peran kebangsaan PT, tetapi juga akan memperkokoh PT dalam pelaksanaan Tri Dharma yang pada saatnya nanti akan menempatkan UTM sebagai World Class University yang memiliki pahala dan berkah yang luar biasa dari Allah SWT.

Semua industri itu tentu ada bagian hulu, hilir, dan prosesnya yang memerlukan teknologi (slide 9). Teknologi itulah yang akan meningkatkan nilai tambah produk. Di sektor hulu sekalipun diperlukan teknologi agar bahan dasar industri ini bisa sesuai dengan harapan.

Universitas Trunojoyo Madura (UTM) dapat mengambil ceruk hulu dan hilir (slide 10). Misalnya untuk hulu industri agro harus mempunyai peneliti yang handal dalam budi daya, breeding, dan perbenihan. Adapun di sisi hilir UTM harus mempunyai SDM untuk teknologi pasca panen, kemasan, dan teknologi pangan. Begitu juga klaster-klaster lainnya memerlukan para ahli di dua sisi.

Selain teknologi dalam bisnis juga diperlukan ahli manajemen dan pemasaran. Mereka itulah yang harus mengelola agar sebuah produk dapat dijual dengan harga yang baik. Dalam industri agro selain nilai tambah ada di sisi hilir, juga di sektor benih. Benih perkebunan bisa mempunyai nilai tambah yang tinggi.

Melihat potensi SDA Madura (slide 11, 12 dan 13) bisa dikembangkan industri jagung, garam, dan gas alam. Untuk jagung perlu terus diperkuat teknologi yang berkaitan dengan perbenihan, budi daya, pemuliaan, pupuk, jagung pakan, jagung manis. Outputnya bisa berupa bibit unggul, benih, pupuk organik, pakan ternak, tepung jagung, hiasan, dan banyak lagi produk hilir lainnya. Begitu juga untuk gas alam dan garam. Teknologi di hulu untuk menghasilkan produk hilir yang berkualitas baik. UTM harus mempunyai Pohon Industri Jagung dari hulu sampai hilir lengkap dengan Output dan Teknologi yang di butuhkan.

Tahap berikutnya harus jelas target pasar yang dibidik (slide 14). Apakah akan mengambil ceruk pasar lokal (Madura, Jatim, Bali, NTB, NTT). Ataukah pasar nasional (Jawa Barat Jawa Tengah, Sumatra, Kalimantan, Sulawesi). Juga pasar internasional (ASEAN, Australia, Jepang, Korea Selatan, China, US, Timur Tengah, dan Eropa).

Dalam proses bisnisnya sektor hulu dan sektor hilir bisa menjadi IGA (Income Generating Activities) untuk UTM (slide 15). Dana yang terkumpul bisa dipergunakan untuk kepentingan perbaikan yang terus menerus (continuous improvement) tri dharma UTM. Untuk itu diperlukan GUG (Good University Governance) yang bisa membawa UTM sebagai kampus entrepreneurial. Sehingga manfaat PT dalam hal ini UTM sangat terasa bagi SDM regional dan nasional.

Untuk menjawab inovasi kampus sebagai entrepreneurial university, diperlukan lembaga baru selain yang ada saat ini, yakni LPPM dan pusat-pusatnya (slide 16). Diperlukan lembaga inkubator bisnis dan perusahaan bisnis rintisan (startup company) untuk menghasilkan calon pengusaha. Kedua lembaga yang berkaitan dengan bisnis itu harus melibatkan para profesional (baik alumni atau pun bukan) selain dosen dan mahasiswa.

Bila produk-produk sudah bagus ada baiknya dibentuk Perseroan Terbatas sebagai badan hukum bisnis. Lembaga ini harus berorientasi profit sebagai IGA yang besar dan bisa membuat CSR.

Dengan pendekatan klaster ini, tidak mustahil UTM sebagai universitas daerah dengan kontribusi nasional. Untuk mendapatkan legitimasi regulasi dan alokasi dana bisa juga pemerintah memberi mandat UTM sebagai Universitas berbasis agro, gas alam dan garam. Model ini bisa diberikan kepada kampus daerah yang mempunyai keunikan SDA. Dengan demikian, SDM Indonesia yang berkualitas itu menyebar ke seluruh Indonesia. Tidak terkonsentrasi di Jawa dan bahkan Jakarta.

Billahittaufiq wal hidayah
Wassalamu’alaikum warrahmatullahi wabarakatuh

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *