Mengapa Yudi Latif Pamit Dari BPIP?

Bambang Setiono
Dosen Fakuktas Bisnis
Universitas Sampoerna

Semua orang terkejut dengan sikap Yudi Latif yang memutuskan mundur dari jabatan yang prestigius sebagai Kepala Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP). Untuk sebagian besar orang, jabatan Kepala BPIP adalah pekerjaan impian, tapi tidak untuK Yudi Latif.

Presiden Jokowi menyatakan bahwa masalah keluarga adalah alasan mengapa Yudi Latif mundur dari BPIP. Mungkin Presiden Jokowi benar karena beliau memiliki informasi yang lebih banyak dari publik tentang alasan mundurnya Yudi Latif. Akan tetqpi publik hanya dapat menganalisa mundurnya Yudi Latif dari signal-signal informasi yang bertebaran di media sosial dan media publik lainnya.

Apakah tindakan Yudi Latif sebuah tidakan yang etis dan patut nenjadi contoh bagi para pejabat negara yang Lain? Atau sebuah tindakan yang merugikan bangsa dan negara? Ketua PBNU menyatakan BPIP merugi dengan mundurnya Yudi Latif. Untuk menjawab pertanyaan ini kita harus mengetahui mengapa Yudi Latif memutuskan mundur dari BPIP.

Dalam surat pamitnya kepada masyarakat, Yudi menyatakan alasan pamitnya adalah karena perubahan bentuk organisasi dari unit di bawah Presiden (UKP-PIP) menjadi sebuah lembaga pemerintah BPIP membutuhkan pimpinan baru yang memahami pengelolaan hubungan antara dewan pengarah dan pelaksana BPIP. Mengurus sebuah lembaga pemerintah juga memerlukan keahlian yang berbeda dengan mengurus sebuah unit kerja presiden. Yudi latif menyatakan beliau tidak memiliki cukup kepribadian, kecakapan, dan waktu untuk mengelola hal-hal tersebut.

Jika menggunakan teori Lawrance Kohlberg tentang tingkat perkembangan kognitif pengambilan keputusan manusia, Yudi Latif memiliki kepribadian dengan tingkat kesadaran kognitif yang tertinggi, yaitu tingkat keenam. Pada tingkat ini, seseorang mengambil keputusan karena menggunakan prinsip-prinsip nilai moral yang diyakininya. Keputusannya diambil bukan karena takut di hukum (tingat pertama),bukan karena di berikan insentif pribadi (tingkat kedua), bukan karena untuk kepentingan golongan (tingkat ketiga),dan bukan hanya untuk mengikuti peraturan yang berlaku (tingkat keempat). Mungkin juga Yudi Latif memiliki kesadaran kognitif kelima untuk memberikan signal bahwa peraturan terkait BPIP yang ada kurang memadai untuk mengamalkan etika Pancasila yang mewajibkan pejabat negara tidak mendahulukan kepentingan pribadi atau kelompok.

Yudi latif adalah seorang pemikir Islam dan kenegaraan yang pemikiranya banyak diikuti dan diperhatikan oleh berbagai kalangan masyarakat. Pengalaman hidupnya lebih banyak di habiskan untuk memimpin unit kerja riset dan analisis kebijakan di perguruan tinggi. Yudi Latif menyadari besarnya tanggung jawab BPIP untuk menyemaikan nilai-nilai Pancasila di berbagai lembaga negara dan masyarakat. Dibutuhkan sesorang dengan pengalaman dan kemanpuan menstrasformasi organisasi yang kurang beretika menjadi sebuah organisasi yang beretika Pancasila. Seorang pemikir akan kehilangan ketajamannya dalam menghasilkan pemikiran yang original jika harus tenggelam dalam kegiatan teknis mentransformasi berbagai lembaga negara dan pemerintahan.

Yudi Latif adalah seorang dosen di sebuah perguruan tinggi swasta di Indonesia yang memiliki beban kerja yang sangat tinggi sebagaimana di alami oleh dosen-dosen yang lain. Beliau harus mengajar dan mempersiapkan bahan ajar, melakukan penelitian, melaksanakan pengabdian masyarakarat, dan menyelesaikan tugas administrasi dosen seperti menyelesaikan laporan beban kerja dosen (BKD) dan terlibat dalam penyusunan dokumen akreditasi (borang) yang tiada hentinya. Jika pernyataan Presiden Jokowi tentang masalah keluarga benar adanya, maka  Yudi Latif sudah tidak lagi memiliki waktu untuk mengelola BPIP.

Sebelum Yudi Latif mempublikasikan permohonan pamitnya kepada masyarakat, beliau menulis artikel di Kompas yang berjudul “Mencari Kebahagian.”  Menurutnya,  tujuan beragama dan bernegara adalah sama,  yaitu untuk mencari kebahagian koletif maupun kebahagian pribadi.  Kebahagian pribadi dapat  tercapai jika manusia bisa memberikan makna hidup yang lebih besar dari kepentingan pribadinya  yang diwujudkan dengan adanya tiga hubungan (triadik) yang harmonis antara manusia dengan Tuhan Yang Maha Esa,  antara manusia dengan sesamanya,  dan antara manusia dengan alam semesta.

Yudi Latif berpendapat ketidak harmonisan dalam triadik ini mengakibatkan kehampaan dan kekalutan jiwa dalam kehidupan berbangsa.  Untuk mengatasinya harus ada semprotan udara baru kedalam jiwa bangsa dengan menyalakan pelita jiwa yang mampu menghilangkan kemacetan dalam hubungan triadik dalam kehidupan berbangsa.

Keputusan Yudi Latif untuk mundur mungkin adalah upaya beliau untuk mencari kebahagian dengan memberi makna hidup yang lebih besar dari kepentingan pribadinya.   Beliau melihat ada ketidak bahagian dan kekalutan dalam jiwa bangsa ini.

Benarkah ada kehampaan dan kekalutan jiwa di dalam bangsa yang besar dan majemuk ini?  Bangsa ini dibangun oleh para pendirinya berdasarkan nilai-nilai Pancasila yang menentang budaya koruptif, memecah belah,  tidak toleran, dan diskriminatif serta merusak sumber daya alam.   Dalam realiatasnya masyarakat belajar bahwa para pejabat negara telah melakukan korupsi secara terus menerus walaupun sudah ada KPK. Masyarakat juga belajar adanya sikap tidak toleran dari sebuah kelompok masyarakat kepada kelompok masyarakat yang lain.  Masyarakat juga belajar bahwa para pimpinan bangsa melakukan tindakan diskriminatif dengan mendahulukan kepentingan orang yang memiliki uang atau pengaruh.  Masyarakat juga melihat terjadinya illegal logging,  illegal fishing,  dan illegal mining yang merusak sumber daya alam Indonesia.  Semua itu menunjukan adanya kemacetan dalam triadik kehidupan berbangsa di Indonesia.

Semoga pengunduran diri Yudi Latif dari jabatan yang prestigius di negara ini dapat menjadi pelita jiwa yang membuat bangsa ini berbahagia  kembali. Pelita jiwa bangsa ini harus menyala lebih besar lagi agar mampu menyelaraskan hubungan yang macet antara masyarakat dengan Tuhan Yang Maha Esa,  antara berbagai kelompok masyarakat,  dan antara masyarakat dengan alam Indonesia. Indonesia membutuhkan lebih banyak lagi pejabat negara dengan kepribadian Yudi Latif.  Kepribadiian yang mampu menempatkan nilai-nilai moral dalam berpolitik dan berbangsa.  Semoga Yudi Latif berhasil mendapatkan kebahagian yang beliau cari.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *