Jajak Pendapat Berbasis Medsos

Asep Saefuddin

Rektor Universitas Al Azhar Indonesia/Guru Besar Statistika FMIPA IPB

Jajak pendapat adalah salah satu cara menarik kesimpulan dalam ilmu-ilmu sosial, termasuk dalam politik. Memang tidak mungkin jajak pendapat ini bisa memuaskan semua orang. Tetapi apapun hasilnya, tentu harus diterima dan bisa dijadikan modal upaya perbaikan sebuah organisasi. Sudah barang tentu metode yang dipergunakan harus benar, mematuhi kaidah-kaidah keilmuan (statistika).

Sebenarnya apa jajak pendapat itu? Tidak lain adalah suatu cara untuk mendapat informasi atau pendapat masyarakat tentang sesuatu hal. Pendapat itu bisa “ya” atau “tidak”, bisa juga skala nilai (misalnya 1 sampai dengan 5) atau bisa juga kualitatif. Dalam dunia politik, jajak pendapat “ya/tidak” sering dipergunakan untuk memprediksi kecenderungan masyarakat dalam memilih calon Presiden, Gubernur, atau Bupati/Walikota. Isu ini sangat sensitif, sehingga netralitas dan metodologi sangat menentukan kualitas hasil.

Sebelum ada alat komunikasi modern, jajak pendapat dilakukan dengan penarikan contoh, sampel atau responden. Sast ini metode penarikan contoh atau sampling ini berkembang dengan baik untuk mendapatkan hasil yang benar, tidak berbias dengan akurasi yang tinggi. Dengan demikian hasilnya dapat dijadikan untuk penarikan kesimpulan yang sahih.

Metode ini, selain sahih, juga banyak memberi manfaat dari segi waktu, dana, dan tenaga. Dan itulah kelebihan dari ilmu pengetahuan. Wajar bila dalam statistika ada jargon bahwa sejuta data yang diambil tanpa metodologi itu tidak lebih baik dari seribu data.

Data dan Media Sosial

Saat ini kecepatan informasi dapat diperoleh melalui media sosial seperti twitter, instagram, dan facebook. Selain cepat juga jumlah data bisa sangat besar.
Banyak yang menanyakan apakah media sosial itu dapat digunakan untuk survei jajak pendapat. Memang sebelum adanya media sosial ini, lembaga survei ada yang memanfaatkan telepon dalam jajak pendapat. Hal ini mengadopsi model jajak pendapat di negara maju.

Di tahun 80an pemanfaatan telepon untuk survey jajak pendapat di negara maju secara metodologi bisa dipertanggung-jawabkan alias sahih.  Karena semua penduduk di negara maju sudah terjangkau alat komunikasi telepon. Dengan demikian metode-metode penarikan contoh (sampling) bisa diterapkan. Buka telepon bisa dijadikan populasi untuk dibuat kerangka sampel.

Metode jajak pendapat berbasis nomor telepon itu di Indonesia dan negara berkembang tidak bisa dipergunakan untuk memprediksi pendapat anggota populasi. Karena tidak semua penduduk mempunyai telepon rumah. Tetapi pola ini bisa juga dijadikan alat prediksi pendapat kelompok strata sosial tertentu.
Lalu bagaimana dengan keadaan saat ini dimana hampir semua orang sudah punya smartphone atau bahkan smart gadget? Bila data kepemilikan gadget sebagai populasi itu tersedia, maka metode teknik penarikan contoh bisa diterapkan. Pemilik gadget tetap pasif sebagai calon responden. Mereka baru aktif bila ditanya.

Bagaimana dengan media sosial, apakah bisa dipergunakan untuk menarik kesimpulan melalui jajak pendapat? Dalam hal jumlah, responden berbasis medsos seperti twitter, FB dan instagram ini tentu akan jauh lebih banyak daripada jajak pendapat lewat survei di lapangan. Apakah ini tidak bisa dijadikan jaminan akurasi survei, sehingga hasilnya sahih?

Ingat bahwa jumlah besar secara statistika bukan jaminan yang terbaik. Memang untuk mengurangi galat atau error yang bersifat acak itu bisa dijawab dengan jumlah data. Tetapi kategori kesalahan sistematik sama sekali tidak bisa ditangani oleh jumlah data.
Kita harus hati-hati menarik kesimpulan berbasis data medsos. Bukan saja populasinya sulit dikategorikan satu individu satu nomor, tetapi anggota medsos bisa ada yang aktif dan ada yang pasif. Bila ada survei atau jajak pendapat melalui medsos, anggota yang aktif akan menyebarkan survey ini kepada kelompok atau teman-temannya.

Perbedaan antara survei berbasis non-medsos (sampling langsung di lapangan) dan medsos adalah tipe respondennya. Untuk responden non-medsos lebih bersifat pasif yang menjadi sampel karena terpilih secara random oleh metodologi. Adapun responden medsos bersifat aktif. Begitu ada informasi jajak pendapat lewat medsos anggota medsos akan secara aktif menyebarkan informasi itu kepada kelompoknya. Dan tidak mustahil yang bersangkutan menitipkan jawaban yang diinginkan.

Dengan demikian tipe data berbasis medsos akan memberikan kesimpulan yang bias. Berbeda dengan data berbasis survei lapangan, secara metodologi tidak berbias.
Apakah medsos tidak bisa dipergunakan untuk survei jajak pendapat? Tentunya bisa, tetapi harus lebih hati-hati. Pola pengumuman langsung permohonan untuk mengisi kuesioner akan menghasilkan keputusan bias.

Lalu bagaimana caranya ketika kita ingin memanfaatkan medsos untuk menarik kesimpulan? Tahap awal kita harus mempunyai catatan anggota medsos sebagai populasi. Populasi ini harus bersih dari data ganda. Misalnya data seseorang tidak mempunyai dua nama di medsos. Bila itu tidak bisa dibersihkan, hasilnya tetap akan bias.

Dengan asumsi bahwa anggota medsos itu bersih alias satu nama satu alamat, maka populasinya tersedia. Dalam hal bisa dibuat kerangka sampling. Walaupun tidak perlu. Karena semua anggota medsos bisa disurvei alias sensus di kelompok medsos. Hal ini bisa dikatakan sebagai kelebihan survei berbasis medsos daripada survei lapangan non-medsos. Namun demikian tidak bisa ditarik ke populasi secara keseluruhan populasi penduduk. Artinya secara statistika masih ada bias inferensial bila akan dijadikan kesimpulan secara menyeluruh. Kesimpulannya terbatas pada penduduk medsos di Indonesia. Bukan penduduk Indonesia.

Namun demikian, tentu  jajak pendapat berbasis medsos tetap sangat berguna. Sebagai informasi dari penduduk medsos (nitizen). Tetapi tetap tidak bisa dilakukan inferensi atau penarikan kesimpulan ke seluruh penduduk (campuran antara nitizen dan penduduk biasa).

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *