Menolak Terorisme

Sebagian kecil orang percaya bahwa membunuh orang yang berbeda adalah cara paling manjur untuk masuk Surga.  Sebagian lagi merasa sistem Pancasila bukanlah sistem yang tepat untuk Indonesia dan ingin menggantinya secara diam-diam dan pelan-pelan sambil membangun kekuatan .

Kedua kelompok saudara ini cepat atau lambat akan bentrok dengan kita yang percaya bahwa Pancasila adalah sistem sebagaimana yang di ajarkan di dalam semua kitab suci.  Pancasila mengajarkan semua perintah Tuhan Yang Maha Esa.

Yang salah adalah pemimpin yang munafik.  Menyatakan Pancasila tetapi melakukan korupsi, diskriminatif,  tidak fair,  penuh konflik kepentingan, dan sebagainya tindakan yang tidak beretika (baca tidak Pancasila) .

Kalau ingin merubah Indonesia menjadi lebih baik, jadilah pemimpin etik di tempat anda bekerja dan di partai politik yang anda dukung. Memang tidak mudah,  tetapi itulah jalan menuju Surga sebagaimana di ajarkan oleh semua kitab suci. Lihatlah bagaimana perjuangan para Nabi dan Rasul Allah SWT.  Tidak ada yang mudah.

Mari kita membantu himbauan pemerintah agar para dosen tidak menjadi anggota kelompok organisasi yang ingin merubah Pancasila.

Saya ALFED saya Pancasila..

https://regional.kompas.com/read/2017/07/22/16505881/menristekdikti-beri-pilihan-kepada-dosen-dan-pegawai-ptn-anggota-hti

 

Cara Bank di Spanyol Menghadapi Disrupsi Fintech

Bank Santander, salah sstu bank besar di Eropa membuat beberapa anak usaha untuk menghadapi perkembangan Fintech seperti Monzo dan Tandem.  Mereka membuat openbank dan bank yang khusus melayani UKM.

Memperhatikan dan meneliti perkembangan bank di Indonesia menghadapi Fintech tentunya sangat menarik.

Simak berita lengkapnya di bawah ini:

https://www.telegraph.co.uk/business/2018/05/12/santander-ke launch-stand-alone-uk-digital-bank/

Tidak ada perusahaan Indonesia yang memiliki budaya etika kerja kelas dunia

Sambil menunggu antrian yang cukup panjang,  saya mencari peringkat perusahaan dengan etika kerja terbaik di Indonesia. Sayangnya, saya selalu mendapatkan berita dari media di Indonesia yang menyebutkan terpilihnya perusahaan etika kelas dunia.  Tidak ada berita tentang pemberian penghargaan etika kerja perusahaan di Indonesia.

Apa boleh buat,  saya jadi mencari data perusahaan kelas dunia yang memiliki budaya etika kerja atau organisasi yang baik.

Saya harus kecewa lagi,  ternyata tidak ada perusahaan Indonesia yang mendaptkan penghargaan dari lembaga Ethisphere yang sejak tahun 2007 telah memberikan penghargaan etika kepada organisasi bisnis dan non-profit di dunia.

Perusahaan dari Asia yang mendapatkan penghargaan adalah Singapore Airlines dan Tata Industries.  Ada satu perusahaan Taiwan yang kurang terkenal di Indonesia,  Sinyi Reality yang masuk daftar.  Sementara organisasi non-profit yang saya tahu beroperasi di Indonesia adalah The Nature Conservancy sebuah LSM bidang lingkungan hidup.

Kekecewaan saya semakin bertambah karena tidak ada satupun Kantor Akuntan Big 4 yang masuk kedalam daftar ini.  Sebagai seorang akuntan tentunya saya berharap Kantor Akuntan memiliki budaya etika kerja yang tinggi.  Saya juga baru tahu bahwa Nokia ternyata memiliki etika organisasi yang lebih baik dari Apple dan Samsung, dua perusahaan yang banyak mempengaruhi cara kita bekerja sekarang ini.

Saya tertarik dengan manajemen etika dari perusahaan-perusahaan yang beretika ini, khususnya bagaimana mereka bisa tetap menjaga etika kerja mereka pada saat beroperasi di negara yang tinggi tingkat korupsinya dan budaya etika organisasinya bukan menjadi bagian utama kebijakan tata kelola perusahaan di negara tersebut.

Inilah daftar organisasi dengan budaya etika organisasi kelas dunia.  Harusnya menyenagkan bekerja atau bekerjasama dengan organisasi-organisasi ini.

http://www.worldsmostethicalcompanies.com/honorees/

 

Kesiapan Perguruan Tinggi Memasuki Era Industri 4.0

Sambil makan soto mie Bogor dan Es Campur Medan, saya membaca paper menarik dari Apitep Saekow and Dolly Samson (2011) yang mengutarakan hasil penelitian mereka tentang kesiapan perguruan tinggi di Thailand mengadopsi e-learning sebagai sistem pendidikan di perguruan tinggi.  Paper ini menarik untuk kita pahami karena pendidikan di era industri 4.0 akan berbasis e-learnings.

Saekow dan Samson (2011) menggunakan sebuah alat ukur yang memiliki instrumen mengukur leadership perguruan tinggi atau mereka menyebutnya bisnis,  kesiapan teknologi,  keuangan,  infrastruktur dan SDM perguruan tinggi.

Dengan alat ukur itu dan membandingkannya dengan perguruan tinggi di Amerika Serikat,  mereka menemukan pergurian tinggi di Thailand belum siap dengan e-learnings. Mereka menemukan leadership perguruan tinggi lemah karena tidak memberikan contoh dan terlibat dalam proses elearning.  SDM dosen belum aktif dan lebih menggunakan pendekatan top-down pedagogy dalam mengembangkan elearning, teknologi yang masih rendah dan juga materi pembelajaran yang kurang memadai  khususnya tentang budaya Thailand.

Mungkin kondisi elearning di Thailand sudah lebih baik saat ini karena penelitian Saekow dan Samson dilakukan 7 tahun yang lalu. Tetapi saya kurang tertarik mencari tahu jawabannya.  Yang lebih penting menurut saya adalah mengetahui kesiapan perguruan tinggi Indonesia dengan elearning. Apakah kondisi kita saat ini sama dengan kondisi Thailand 7 tahun yamg lalu?  Apakah ada teman-teman yang sudah menelitinya?

Tanpa terasa Soto Mie dan Es Campur sudah pindah ke perut saya. Go-car juga sudah menunggu saya balik ke kampus.

Untuk yang ingin membaca lengkap hasil penelitian Saekow dan Samson silahkan unduh di bawah ya.  Sampai jumpa di cerita yang lainnya.

https://scholar.google.co.id/scholar?q=E-learning+Readiness+of+Thailand%E2%80%99s+Universities&hl=en&as_sdt=0&as_vis=1&oi=scholart&sa=X&ved=0ahUKEwj7ss2h3-jaAhUJULwKHVlsCOcQgQMIFTAA#d=gs_qabs&p=&u=%23p%3Dco1q6iWTsrYJ

 

 

AI Membantu Mengetahui DNA Nilai Moral Anda

Saya sedang mempersiapkan bahan untuk murid-murid saya mempelajari pedoman untuk menghadapi ethical dilema dalam kehidupan bisnis, ketika saya menemukan Artifical Intelligence (AI)  yang dapat membantu kita dalam hitungan menit menemukan jati diri kita.

Proses kita mengambil keputusan etika menurut Treveno dan Nelson (2014) melalui tiga tahapan: memahami masalah etika,  proses penilaian etika,  dan pengambilan keputusan etika.

Kemampuan kita memahami masalah etika di tempat kita bekerja di tentukan oleh bagaimana kita menilai pimpinan dan teman kerja kita akan menilai masalah tersebut.  Jika meng-copy pekerjaan orang lain dan mengganggap sebagai pekerjaan sendiri menurut kita bukan masalah etika bagi para pimpinan atau teman kerja kita,  sudah pasti kemampuan kita untuk mengidentifikasi masalah etika akan lemah atau rendah.  Radar etika kita tidak akan dapat menangkap kejadian yang dianggap sangat tidak beretika di dunia pendidikan.

Kita juga bisa mengendus adanya masalah etika di tempat kerja kita jika kita mau menggunakan bahasa etika dalam kegiatan yang kita lakukan.  Coba gunakan kata Plagiat atau mencuri dalam kasus mengcopy pekerjaan orang lain.

Cara ketiga mengendus masalah etika di tempat kerja kita adalah jika kita memiliki kemampuan untuk menghitung dampak perbuatan mengcopy pekerjaan orang lain itu kepada orang yang memiliki pekerjaan dan kepada organisasi tempat kita bekerja.  Bayangkan jika tempat kita bekerja di ketahui orang sebagai tempat para plagiator.

Setelah kita mampu mengendus masalah etika yang ada di hadapan kita,  selanjutnya kita menilai masalah etika ini untuk menentukan salah dan benar dari tindakan yang kita lakukan.  Proses kita menilai tindakan dengan etika dilema ini bergantung salah satunya kepada style pengambilan keputusan etika kita, preferensi nilai-nilai moral kita.  Pada umumnya, kita di kelompokan kedalam group orang-orang idealis atau group realistis. Pertimbangan orang yang idealis lebih kepada hasil yang terbaik bagi stakeholder. Sedangkan,  orang-orang yang realistis akan mengambil keputusan yang paling bisa segera dilaksanakan.

Nah pada saat inilah saya perlu alat bantu untuk menilai gaya pengambilan keputusan etika para mahasiswa/i saya.  Saya ingin mereka mengetahui style mereka.

Melalui bantuan AI yang namanya Google saya mendapatkan mesin AI yang namanya MoralDNA.  Hanya dalam hitungan detik setelah kita menjawab kuesioner secara jujur,kita akan mengetahui gaya pengambilan keputusan etika kita.

Moral DNA membagi kita menjadi seseorang dengan karakterl: Filosuf,  Hakim, Malaikat (Angel),  Penegak Hukum,  Pelindung (Guardian).

Silahkan anda cari tahu siapa diri anda.  Hasilnya penting untuk mengembangkan karir dan kehidupan pribadi anda. Kita bisa diskusikan hasilnya secara pribadi.

https://profile.moraldna.org/gen/user/register.php#

Salam

Bambang Setiono

Catatan: menurut pengelola MoralDNA, data anda dirahasiakan.  

 

Karir Wartawan atau Jurnalis Terancam

Jika anda berprofesi sebagai wartawan atau jurnalis,  berhati-hatilah. Sejak akhir tahun 2017, teknologi Artificial Inteligence (AI) telah berhasil membuat berita media dalam waktu yang lebih cepat daripada berita yang biasanya dibuat oleh wartawan.

Simak beritanya di bawah ini:

Today’s AI is super impressive, but it’s not intelligent.

https://www.vox.com/videos/2017/12/19/16792294/artificial-intelligence-limits-of-ai

SKK Migas Goes to Poliban

ALFED menggalang kerjasama dengan SKK Migas untuk melaksanakan kegiatan Literasi Hulu Migas di kampus Politeknik Negeri Banjarmasin (Poliban) pada tanggal 27 April 2018.

Kegiatan ini bertujuan untuk meningkatkan pengetahuan sivitas akademika  di Banjarmasin tentang peran dan tantangan industri hulu migas di masa lalu dan akan datang.

Ikuti kisahnya di Steller di bawah ini:
https://steller.co/s/8A4rRSaMHVD

Pelantikan Pengurus Daerah ALFED Wilayah Banjarmasin

Pada tanggal 27 April 2018, Ketua Umum ALFED melantik Pengawas dan Pengurus Pengurus Daerah ALFED Wilayah Banjarmasin bertempat di Politeknik Negeri Banjarmasin (Poliban) .

Pengurus Pusat ALFED mempercayakan Bu Ayu untuk menjadi Ketua Pengda ALFED Banjarmasin periode 2018-2021.

Selamat kepada para pengawas dan pengurus yang terpilih.  Selamat berkarya dan berhasil mencapai cita-citanya.

Ikutilah ceritanya melalui Steller di bawah ini:

https://steller.co/s/8AD382FJNDE

 

Revitalisasi Politeknik Negeri

Untuk mengatasi kesenjangan harapan kompetensi lulusan antara perguruan tinggi dengan industri, pemerintah meluncurkan program Revitalisasi Politeknik Negeri.  Program ini terdiri dari beberapa inisiatif sebagai berikut:

1. Kurikulum yang sesuai dengan kebutuhan industri

2. Magang dosen di industri

3. Membangun lab sesuai lab industri

4. Magang mahasiswa 2 semester (1 tahun)

Semua inisiatif harus di rancang sesuai dengan perkembangan teknologi di industri 4.0.

Salam revitalisasi.

ALFED

Bayangkan Jika Robot Boleh Menjadi Dosen

Era revolusi industri 4.0 telah hadir disini. Iya benar,  robot telah menjadi sejawat anda di tempat kerja anda sebagai apapun anda, termasuk sebagai dosen.  Memang robotnya belum berbentuk manusia.  Robot yang ada di kampus saat ini adalah dalam bemtuk online learnings yang bisa diikuti dengan mudah bagi mahasiswa yang  mampu berbahasa Inggris.  Tidak perlu ada dosen yang mengajarkan materi standar yang biasa di sampaikan oleh dosen di muka kelas.

Tidak berapa lama lagi , dengan tujuan efisiensi dan efektivitas pendidikan, akan ada kampus yang menggunakan robot berbentuk manusia. Apalagi dengan semakin murahnya harga sebuah robot.

https://ark-invest.com/research/industrial-robot-costs

Mari para dosen,  kita bersiap-siap untuk menhadapi era robot di kampus kita masing-masing. Tetap Semangat!!!