AI Membantu Mengetahui DNA Nilai Moral Anda

Saya sedang mempersiapkan bahan untuk murid-murid saya mempelajari pedoman untuk menghadapi ethical dilema dalam kehidupan bisnis, ketika saya menemukan Artifical Intelligence (AI)  yang dapat membantu kita dalam hitungan menit menemukan jati diri kita.

Proses kita mengambil keputusan etika menurut Treveno dan Nelson (2014) melalui tiga tahapan: memahami masalah etika,  proses penilaian etika,  dan pengambilan keputusan etika.

Kemampuan kita memahami masalah etika di tempat kita bekerja di tentukan oleh bagaimana kita menilai pimpinan dan teman kerja kita akan menilai masalah tersebut.  Jika meng-copy pekerjaan orang lain dan mengganggap sebagai pekerjaan sendiri menurut kita bukan masalah etika bagi para pimpinan atau teman kerja kita,  sudah pasti kemampuan kita untuk mengidentifikasi masalah etika akan lemah atau rendah.  Radar etika kita tidak akan dapat menangkap kejadian yang dianggap sangat tidak beretika di dunia pendidikan.

Kita juga bisa mengendus adanya masalah etika di tempat kerja kita jika kita mau menggunakan bahasa etika dalam kegiatan yang kita lakukan.  Coba gunakan kata Plagiat atau mencuri dalam kasus mengcopy pekerjaan orang lain.

Cara ketiga mengendus masalah etika di tempat kerja kita adalah jika kita memiliki kemampuan untuk menghitung dampak perbuatan mengcopy pekerjaan orang lain itu kepada orang yang memiliki pekerjaan dan kepada organisasi tempat kita bekerja.  Bayangkan jika tempat kita bekerja di ketahui orang sebagai tempat para plagiator.

Setelah kita mampu mengendus masalah etika yang ada di hadapan kita,  selanjutnya kita menilai masalah etika ini untuk menentukan salah dan benar dari tindakan yang kita lakukan.  Proses kita menilai tindakan dengan etika dilema ini bergantung salah satunya kepada style pengambilan keputusan etika kita, preferensi nilai-nilai moral kita.  Pada umumnya, kita di kelompokan kedalam group orang-orang idealis atau group realistis. Pertimbangan orang yang idealis lebih kepada hasil yang terbaik bagi stakeholder. Sedangkan,  orang-orang yang realistis akan mengambil keputusan yang paling bisa segera dilaksanakan.

Nah pada saat inilah saya perlu alat bantu untuk menilai gaya pengambilan keputusan etika para mahasiswa/i saya.  Saya ingin mereka mengetahui style mereka.

Melalui bantuan AI yang namanya Google saya mendapatkan mesin AI yang namanya MoralDNA.  Hanya dalam hitungan detik setelah kita menjawab kuesioner secara jujur,kita akan mengetahui gaya pengambilan keputusan etika kita.

Moral DNA membagi kita menjadi seseorang dengan karakterl: Filosuf,  Hakim, Malaikat (Angel),  Penegak Hukum,  Pelindung (Guardian).

Silahkan anda cari tahu siapa diri anda.  Hasilnya penting untuk mengembangkan karir dan kehidupan pribadi anda. Kita bisa diskusikan hasilnya secara pribadi.

https://profile.moraldna.org/gen/user/register.php#

Salam

Bambang Setiono

Catatan: menurut pengelola MoralDNA, data anda dirahasiakan.  

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *